Minggu, 25 Maret 2012

aborsi yang kian marak di Tanah Air.

MATARAM,  Konsultan pendidikan seks, Dr Andik Wijaya menyatakan hingga saat ini pemerintah masih belum konsisten dalam pemberantasan tidak pidana aborsi, yang kian marak di Tanah Air.

"Tindakan aborsi tidak lagi didominasi masyarakat perkotaan, tetapi juga sudah masuk hingga ke pelosok-pelosok kampung. Aborsi makin banyak karena pemerintah masih menggunakan standar ganda," katanya pada seminar, yang dihadiri ratusan remaja/pemuda gereja se-Lombok di Mataram, Jumat malam.

Tindakan aborsi yang kerap dilakukan kalangan pemuda dan remaja yang melakukan seks bebas, justru dilakukan oleh klinik-klinik yang dibawah binaan pemerintah. Pemerintah di satu sisi bertanggung jawab dan berwenang untuk menindak serta memberantas aborsi, tetapi di satu sisi justru pemerintah memberikan peluang.

"Sehingga jangan heran bila kondisi demikian itu sering dimanfaatkan untuk kepentingan memperkaya diri sendiri. Kasus aborsi setiap tahunnya di Indonesia terus mengalami peningkatan," katanya. Menabukan masalah seks sudah tidak tepat lagi saat ini. Pemuda dan remaja saat ini membutuhkan pendidikan seks secara benar.

Para orang tua yang tidak siap memberikan pendidikan seks yang benar kepada putra-putrinya justru akan mendapati anak-anaknya mendapatkannya informasi seks secara salah, baik melalui media massa, bacaan serta penjelasan dari rekan sebaya.

Remaja kerap mencari solusi secara salah, karena tidak mendapatkan jawaban yang membutuhkan dari orang tua mereka. "Dalam pencarian jati diri itupula yang menyebabkan tidak sedikit para pemuda dan pemuda kita saat ini yang tersesat, akhirnya terlibat pergaulan bebas, yang akhirnya mereka terpaksa melakukan tindakan aborsi," katanya.

Lebih lanjut, Dr Andik Wijaya yang mengkhususkan diri dalam pendidikan seksual tersebut menyatakan bahwa keterlibatan pemuda ataupun remaja dalam tindakan aborsi tersebut berdampak buruk terhadap kehidupan sosial, psikis, serta kejiwaan.

Yang pasti, bagi pemudi atau remaja yang telah melakukan tindakan aborsi, maka hal itu akan menghantui kehidupannya sepanjang masa, dan tidak akan pernah terhapuskan dari ingatannya. Bahkan yang bersangkutan akan merasa tersisihkan dalam pergaulan sosial atau masyarakat.

Mengenai keberadaan kondom yang dikatakan dapat mengurangi penyebaran virus HIV/AIDS, Dr Andi Wijaya secara tegas menyatakan, pendapat demikian itu adalah pemikiran yang salah.

"Produsen kondom kerap menyesatkan," katanya. Dari hasil penelitian yang dilakukan di negara-negara maju, ternyata kondom tidak relevan dalam pencegahan penularan virus HIV/AIDS.

Karena itu, masyarakat maju sepeti di Amerika Serikat sekarang, sudah mengalihkan penggunaan kondom tersebut dengan mengubah gaya hidup. Mereka berpendapat bahwa hidup tanpa kondom itu jauh lebih baik.

Sadar atau tidak, masyarakat kita sekarang ini telah masuk dalam perangkap pabrik-pabrik kondom. Seolah-olah kondom itu merupakan suatu solusi."Hidup tanpa kondom itu jauh lebih sehat. Kalau kita mau hidup benar, kita jangan lagi terjebak pergailan bebas," katanya.



Sumber: Antara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer