Artikel Populer

Jumat, 30 Maret 2012

siswi smp menjual kawannya 2

Aku permainkan lidahku di dalam mulutnya dan dengan mesra Lisa mulai berani membalas cumbuanku dengan menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. Terasa nikmat dan manis. Ketika kedua lidah kami bersentuhan, hangat dan basah. Lalu kukucup dan kukulum bibir atas dan bawahnya berganti-ganti. Terdengar bunyi kecapan-kecapan kecil saat bibirku dan bibirnya saling berlaga. Tak kusangka Lisa dapat membalas semua kucupan dengan ghairah begitu. 
Aku tersenyum. Jemari tangan kananku yang masih berada di kelangkangnya mulai bergerak menekan bukit cipapnya semula. Kuusap-usap ke atas dan ke bawah dengan perlahan. Lisa menjerit kecil dan mengeluh perlahan, kedua matanya dipejamkannya rapat-rapat, sementara mulutnya yang kecil terbuka sedikit. Wajahnya nampak berpeluh sedikit. Kucium telinganya dengan lembut. 

"Oohmm. Bb.. Bangg..", bisiknya perlahan. 
"Sedap tak Abang buat begini", tanyaku bernafsu. 
"Hh.. I.. Iyyaa.. Sedap Bang..", bisiknya terus terang. Dia ni dah naik nafsunya ni. Fikirku dalam hati. 

Aku merangkul tubuhnya lebih rapat ke badanku lalu kami kembali berkucupan. Tangan kirinya menarik pinggangku dan memegang kemejaku kuat-kuat. Bila puas mengusap-usap bukit cipapnya, kini jemari tangan kananku bergerak merayap ke atas, mulai dari pangkal pehanya terus ke atas. Di bawah baju kurungnya. Menyelusuri pinggangnya yang kecil ramping tapi padat, sambil terus mengusap. Kurasakan hujung jemariku mulai berada di antara dua buah dadanya. Jemari tanganku merasakan betapa padat buah dadanya. Aku usap perlahan di situ lalu mulai mendaki perlahan-lahan. Kekadang jemari tanganku meramas buah dadanya terlalu kuat. Lembut dan semakin kenyal. Ketika itu juga Lisa melepaskan bibirnya dari kuluman bibirku. Mulutnya menjerit kecil. 

"Aaww.. Bang sakitt.. Jangan kuat-kuat..", protes Lisa tapi tetap tersenyum.. 

Aku ambil tangan kirinya dan kuletakkan di celah kelangkangku. Kulihat kedua matanya dipejamkan rapat-rapat. Dalam hatiku berkata. Eehh. Dia. Ni malu-malu tapi mau.,. Tangan Lisa itu mulai menyentuh batangku yang beralaskan seluar dalamku. Apalagi batangku tersengguk-sengguk tak boleh diam. Langsung aku buka seluar dalamku. Aku genggamkan tangannya pada batangku. Aku mengerang nikmat bila tiba-tiba saja Lisa bukannya menggenggam lagi tapi malah meramas dengan kuat. Aku mengeluh nikmat. Kulihat Lisa kini sudah berani menatap batangku yang sedang diramasnya, aku tak tahu apa yang sedang ada dalam fikirannya, aku tak peduli, yang penting kenikmatan. 

Aku tarik tubuh Lisa rapat di sampingku dan aku peluk dengan kemas. Lisa menggeliat manja saat aku merapatkan badanku ke tubuhnya yang kecil sehingga buah dadanya yang terasa menekan dadaku. Mm asyikknya. Sementara itu aku cari bibirnya, Lisa merangkulkan kedua lengannya ke leherku, dengan gelojoh tiba-tiba ia pun mengucup bibirku, aku membalasnya dengan tak kurang ganasnya. Lisa termengah-mengah kehabisan nafas. Sementara itu aku tekan batangku kuat ke arah cipapnya. Semasa berkuluman, jemari tanganku mulai merayap ke bahagian belakang tubuhnya, sampai jemari kedua tanganku berada diatas bulatan kedua belah ponggongnya. Kuramas dan kuusap-usap. Aku goyang-goyang daging di ponggongnya sehingga aku dapat merasakan kekenyalan daging ponggongnya yang padat itu. 

Lisa merintih dan mengerang kecil dalam cumbuanku. Lalu kurapatkan ke bahagian bawah tubuhnya ke depan sehingga mau tak mau batangku yang telah keras itu berlaga dengan cipapnya yang masih berbungkus. Aku mulai menggesel-geselkan batangku. Lisa diam saja. Mungkin terasa nikmatnya. 

Kedua tanganku mulai berleluasa. Mencari kancingnya. Aku turunkan badanku sehingga mukaku berada di depan kelangkangnya.  
"Abang buka yaa.. Ya?", tanyaku pura-pura. Meminta izin. 

Lisa hanya menganggukan kepalanya perlahan. Kedua tanganku kembali merayap ke atas menyelusuri kedua betisnya yang kecil terus ke atas sampai kedua belah pehanya yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun, halus sekali kulit pehanya, aku usap perlahan dan mulai meramas. 

" Ooh.. Bang..", Lisa merintih kecil. 

Kemudian jemari kedua tanganku merayap ke belakang. Ke ponggongnya yang bulat. Aku ramas-ramas ganas. Aahh. Begitu halus, kenyal dan padat. Ternyata Lisa pandai menjaga diri. Ketika jemari tanganku menyentuh tali bahagian atas seluar dalamnya, aku tarik ke bawah. Betapa indahnya bentuk cipapnya. Seperti kuih putu piring aje. Di bahagian tengah bukit cipapnya terbelah. Masih tertutup rapat liang cipapnya. 

Di sekitar kawasan itu hanya terlihat beberapa helai bulu cipapnya. Itupun halus-halus. Begitu bersih dan putih cipap milik Lisa ni, bisik hatiku. Sedang aku menghayati keindahan cipapnya itu. Aku lihat Lisa membuka baju kurungnya. Kemudian aku tolong dia buka branya. Wajahnya sedikit kemerahan menahan malu namun ia berusaha untuk tetap tersenyum. Aduhai. Buah dadanya itu memang cantik. Berbentuk bulat seperti bola tennis, warnanya putih. Bersih. Puting-putingnya masih kecil. Berwarna merah muda brownish pun ada sikit-sikit. Sungguh cantik. Fikirku. 

"Lisa ni cantik sekali", bisikku perlahan. 

Batangku semakin tersengguk-sengguk tak tentu hala. Lalu Lisa menghulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri. Kini rasanya kami seperti sepasang kekasih saja. 

"Bang. Lisa dah siap. Lisa akan serahkan semuanya. Seperti yang Abang. Dan Lisa inginkan", bisiknya. 
"Aahh. Atas katil jom. Abang dah tak tahan ni", bisikku tanpa malu-malu lagi. Lisa tersenyum. 
"Terserah Bang. Abang nak buat kat manapun", sahutnya. 

Tooiinng. Batangku tersengguk-sengguk seolah-olah bersetuju. Dengan penuh nafsu aku segera menarik tubuhnya ke katil. Kurebahkan tubuh Lisa yang telanjang bulat itu di atas katil, Tubuh Lisa yang telanjang bulat kelihatan dengan jelas dari hujung rambut sampai hujung kaki. Lisa memandangku. Menunggu apa yang akan berlaku seterusnya. 

Aku buka baju kemejaku. Aku merayap keatas katil. Dan baring di sebelahnya. Kami berkulumam lidah sebentar. Sementara tanganku merayap ke seluruh tubuhnya. Aku usap kedua buah dadanya sambil meramas-ramas perlahan. Kemudian tanganku turun ke bawah. Ke celah kelangkangnya. Sambil mengusap-usap di situ. Sampai terasa lelehan air mazinya di jariku. Lisa merintih-rintih kecil. 

Aku geserkan mukaku tepat berada di atas kedua bulatan buah dadanya, Jemari kedua tanganku mulai merayap di dua gunung miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua buah dadanya. Dan aku uli secukupnya gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok. Lisa merintih dan menggeliat antara geli dan nikmat. 

"Bang.. Mm.. Mm.. Iih.. Geli Bang..", erangnya perlahan. 

Beberapa saat kumainkan kedua puting-puting buah dadanya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Lisa menggeliat lagi. Aku gentel sedikit putingnya dengan lembut. 

"Mm Bang", Lisa semakin mendesah tak karuan dan aku ramas-ramas kedua buah. 
"Aaww. Bbaa.. Nngg..", Lisa mengerang dan kedua tangannya memegang kain cadar dengan kuat. 
Aku semakin menggila. Tak puas kuramas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara bergantian. Seluruh permukaan buah dadanya basah. Kugigit-gigit lembut puting-puting buah dadanya secara bergantian sambil kuramas-ramas sampai Lisa berteriak kecil kesakitan. "Bangg .. Sshh .. Shh .. Oohh .. Oouww .. Banngg ..", erangnya. Aku tak peduli.Lisa menjerit kecil sambil menggeliat ke kiri dan kanan, sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meremas rambut kepalaku. Kedua tanganku tetap meramasi kedua buah dadanya bergantian sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat. Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua buah dadanya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut, puting buah dadanya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap. Lisa hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali menjerit kuat ketika gigiku menggigit lembut putingnya. Beberapa tempat di kedua bulatan payudaranya nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku. Mm. Mm.Ini benar-benar nikmat. Setelah cukup puas. Bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah. Kutinggalkan kedua belah buah dadanya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan hisapanku, terlalu jelas dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusarnya, Lisa mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan keringat menambah nafsu sex-ku yang semakin memuncak, kukucup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah. Aku mundur ke bawah lagi.Dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas bukit cipapnya yang indah mempesona. Tapi selangkangannya terkatup membuatku kurang leluasa untuk mencumbu vaginanya. "Buka kaki Liza ye", kataku tak sabar. "Ooh. Bbaanngg", Lisa hanya merintih perlahan bila aku membuka selangkangannya. Kelihatannya dia sudah lemas aku permainkan, tapi aku tau ​​dia belum orgasme walaupun sudah terangsang. Sekarang ini aku ingin merasakan kelezatan cairan kewanitaan dari liang cipap seorang gadis sunti. Aku memperbaiki posisi kepalaku di atas kelangkang Lisa. Lisa membuka ke dua belah pahanya lebar-lebar. Kini wajahnya yang manis tampak kusut dan rambutnya tampak tak terurus. Kedua matanya tetap terpejam rapat namum bibirnya kelihatan basah merekah indah sekali. Kedua tangannya juga masih tetap memegang sprei, dia kelihatannya rasa tertekan. "Lisa", kataku ramah. "Lepaskan saja perasaan. Jangan takut. Kalau Lisa merasa nikmat. Menjerit saja. Biar puass", kataku selanjutnya. "I.. Iya b .. Bbanngg .. Se .. Seedapp banngg .. ", sambil tetap memejamkan mata ia berkata perlahan.Aku tersenyum senang, sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yangg luar biasa sayang, bisikku dalam hati, dan setelah itu aku akan merenggut kegadisanmu dan menyetubuhimu sepuasnya. Kuhayati beberapa saat keindahan cipapnya itu. Cipap milik Lisa ini masih Fresh. Kulit di bibir cipap dan di sekitar vaginanya itu masih tembam, tidak repot.Kedua bibir cipapnya tertutup rapat sehingga susah untuk aku melihat lubang cipapnya.Benar-benar dara sunti pikirku bangga. Aahh. Betapa nikmatnya nanti saat celah cipap dan liang cipapnya mengemut batangku, akan kutumpahkan sebanyak-banyaknya air maniku ke dalam liangnya nanti sebagai tanda kenikmatan dunia yang tak terkata. Aku berharap agar Lisa juga bisa merasakan semburan air maniku yang hangat, agar dia juga dapat merasakan kenikmatan yang kurasakan. Selanjutnya tanpa kuduga kedua tangan Lisa menekan kepalaku ke bawah. Ke arah vaginanya. Hidungku terbenam di antara kedua bibir vaginanya.Empuk dan hangat. Kuhidu sepuas-puasnya bau vaginanya penuh perasaan, sementara bibirku mengecup bagian bawah bibir vaginanya dengan penuh bernafsu. Aku sudu-sudu vaginanya dengan mulutku, sementara jemari kedua tanganku merayap ke balik pahanya dan meremas ponggongnya yang bulat dengan ganas. Rasa vaginanya. Mm. Yummy. Ada sedikit manis dan asin. Nikmat. Lisa menjerit-jerit nikmat tak karuan, tubuhnya menggeliat hebat dan kekadang melonjak-lonjak kencang, beberapa kali kedua pahanya mengepit kepalaku yang asyik berkulum dengan bibir vaginanya. Kupegang kedua belah ponggongnya yang sudah agak berpeluh agar tidak bergerak terlalu banyak, sementara bibirku masih bermain-main di vaginanya. "Mm .. Bangg .. auuww .. Aaww .. Hgghhkkhh ..". Lisa mengerang-erang. "Bang .. Ssedapp .. Bangg .. Aahh aduuhh .. Oouuhh ..", ia memekik cukup kuat karena nikmatnya. Kedua tangannya bergerak meramas rambut kepalaku, sambil menggoyang-goyangkan bahunya yang seksi. Kekadang ponggongnya dinaikkannya sambil terkejang nikmat kekadang. Digoyangkan ponggongnya seirama dengan nyonyotanku ke vaginanya. "Bangg .. Oouhh .. yaahh .. Yaahah .. Bang .. Huhuhu .. Huhu ..", Lisa berteriak semakin keras. Terkadang Lisa seperti menangis. Mungkin tidak berdaya menahan kenikmatan yang kuhasilkan pada cipapnya. Tubuhnya menggeliat hebat dan kepala Lisa berpaling ke kiri dan ke kanan dengan cepat, mulutnya mendesis dan mengerang tak karuan.Aku semakin bersemangat melihat reaksinya. Mulutku semakin buas, dengan nafas terputus-putus kusingkap bibir dengan jemari tangan kananku. Mm. Kulihat daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurku bercampur dengan cairan air mazinya. Sebelah bawah terlihat celah liang vaginanya yang sangat sempit dan berwarna kemerahan. Aku mencoba untuk membuka bibir cipap Lisa agak luas, namun Lisa tiba-tiba menjerit kecil. Ternyata aku terlalu luas menyingkap bibir cipapnya. Kuusap dengan lembut bibir vaginanya. Kemudian lalu kusingkap kembali perlahan-lahan bibir nakalnya itu, celah merahnya kembali terlihat, atas liang vaginanya kulihat ada tonjolan daging kecil. Juga berwarna kemerahan. Batu permatanya. Bagian paling sensitif. Mm. Ni dia mutiara nikmat untuk Lisa pikirku, lalu dengan rakus lidahku kujulurkan keluar dan mulai menjilat batu permata itu. Tiba-tiba Lisa menjerit keras sambil kedua kakinya menyentak-nyentakkan ke bawah. Lisa mengejang dengan hebat. Dengan pembaruan aku memegang kedua belah pahanya dengan kuat lalu sekali lagi kulekatkan bibir dan hidungku di atas celah kedua bibir vaginanya, kujulurkan lidahku keluar sepanjang mungkin lalu kuteluskan lidahku menembusi apitan bibir vaginanya dan kembali menjilat nikmat permatanya. "Hgghggh .. Hhgh .. Sshshhshh. . ", Lisa menjerit tertahan dan mendesis panjang. Tubuhnya kembali mengejang. Ponggongnya diangkat-angkat ke atas sehingga lebih senang lidahku menelusup masuk dan mengulit-ulit batu permatanya. Tiba-tiba kudengar Lisa seperti terisak dan kurasakan ada cairan hangat singgah ke bibir mulutku.Aku mengulit permatanya sehingga tubuh Lisa mulai terkulai lemah dan akhirnya ponggongnyapun jatuh kembali ke ranjang. Lisa melenguh tak menentu. Menghayati nikmat yang baru pertama kali dia rasakan, kenikmatan sorga dunia miliknya. Celah vaginanya kini tampak agak lebih merah. Seluruh selangkangannya itu tampak basah. Penuh dengan air liur bercampur lendir yang kental. Mm. Mm. Aku jilati seluruh permukaan bukit cipapnya. "Sedap kan?", bisikku. Lisa sama sekali tak menjawab, matanya terpejam rapat. Kulihat lidah Lisa mambasahkan bibirnya. Tanda menikmati keasyikan yang amat sangat. Mulutnya tampak tersenyum bahagia. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera duduk setengah berlutut di atas tubuhnya. Buah dada Lisa penuh dengan lukisan hasil karyaku. Nafasnya terlihat turun naik laju. Dengan agak kasar aku bengkokkan kakinya. Dan kutumpangkan kedua pehaku pada pangkal pahanya sehingga selangkangannya menjadi terbuka luas memperlihatkan cipapnya yang merangsang itu. Kutarik ponggongnya kearahku sehingga batangku yang sudah cukup lama sengsara, aku geselkan diatas bukit cipap milik Lisa yang masih basah.Kuusap-usapkan kepala batangku pada kedua celah bibir vaginanya. Nikmat. Lisa menggeliat manja. "Bangg .. iih .. gelii .. Aah .. Ggeellii ..", jeritnya manja. Aku pegang batangku yang sudah keras dan aku ulit-ulitkan di alur cipapnya. Sambil kuusik-usik batu permatanya dengan kepala batangku. Kemudian aku tusuk celah bukit cipapnya, mencari liang vaginanya perlahan-lahan. Kurasakan bukit cipapnya nikmat dan hangat. Aahh. Kuarahkan batangku dengan tanganku menusuk bukit cipapnya yang lembut lalu kepala batangku menyelusup masuk di antara kedua bibir vaginanya. "Perlahan-lahan Bangg ..", bisiknya lemah. Dengan jemari tangan kananku mengarah batangku yang sudah tak sabar ingin segera masuk dan meragut selaput daranya itu . Lisa memegang pinggangku kemas-kemas, sementara kulihat Lisa memejamkan kedua belah matanya seolah menungguku. Aku tekan lagi perlahan-lahan."Aahh .. Bangg .. Mm .. Aaww .. Pelan-pelan Bangg .. sakiit ..", Lisa memekik kecil. Menggeliat kesakitan. Segera aku pegang bahunya agar jangan bergerak. Aku berhenti menekan. aku main-mainkan sejauh itu saja. Tak mau terus menekan ke dalam. Dalam pada itu. Tanganku merayap-rayap di dadanya. Aku sedut-sedut dadanya. Dan aku kecup telinganya. Akhirnya aku berhasil melupakan kasakitannya dengan kenikmatan. Dan apabila nampak saja Lisa berada di alam kenikmatan. Aku terus menekan dan chreess. Aku merasa seperti ada yang carik. "Aauuww .. Huk .. Huk .. Huu .. Huu .." Lisa menjerit keras lalu menangis terisak-isak.
Selaput daranya dah carik dah. Aku tak begitu peduli dan terus menekan. Kulihat bibir cipapnya mekar semakin besar seperti kembang kuncup. Aagghh. aku menahan rasa nikmat kemutan cipapnya. Kupegang bahu dan kutarik kearahku. Srrtt .. Crrkrktt .. Batangku masuk makin ke dalam. Oouuhh nikmatnya setengah mati., Lisa terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara aku sendiri pejam celik keenakkan. Batangku keenakan bila kupaksa untuk menyelusup ke dalam liang cipapnya yangg sempit. Terasa hangat dan sedikit basah.Lisa merintih dan memekik-mekik kecil ketika batangku berhasil menyelusup liang cipapnya yang tersangat sempit. Wooww. Nikmatnya saat liang cipapnya menyepit kepala batangku, daging cipapnya terasa hangat dan agak licin, namun kemutannya begitu kuat seakan-akan kepala batangku seperti diremas-remas. Aku kembali menekan sampai de dasarnya dan Lisa menjerit kecil lagi, aku tak peduli. "Aaww. Bbaanngg sakiit ..", teriak Lisa meminta belas kasihan, tubuhnya menggeliat kesakitan dan gemetar. Aku berusaha menenteramkannya.Kukulum bibir dan lidah Lisa dengan penuh nafsu sekali sambil kugoyang ponggongku perlahan-perlahan. Kemudian aku kucup dahinya. Perlahan aku bawa bibirku ke arah dadanya. Kesedut-sedut lagi. Sehingga bertambah lagi kemerahan tubuhnya yang putih.Mendesah-desah Lisa. Kegelian dan nikmat. Akhirnya aku tarik batangku. Hanya kapala batangku saja yang masih di dalam vaginanya. Aku tarik dan sorong kepala batangku di liang cipapnya berkali-kali. Lisa mulai merintih-rintih kembali. Dan aku mengambil kesempatan itu dengan menghentak batangku masuk menyelusup terus ke dasarnya. Tubuh Lisa terangkat ke atas sambil memelukku. "Ssaakiit .. Oohh ... Ssedapnya Bang ..", erang Lisa perlahan.Kata sakit sudah berubah menjadi sedap. Aku buat begitu berkali-kali. Itulah keenakan bermain dengan seorang dara sunti. Masih perawan. Dan mungkin betapa nikmatnya seorang dara sunti mengalaminya pertama kali. Aku peluk erat tubuhnya. Aku menggeliat kenikmatan merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya, apalagi masa dadaku menekan kedua buah dadanya yang montok. Rasanya begitu kenyal dan hangat. Puting-puting susunya terasa mengeras dan tajam. Perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah waktu batangku berenag-renang di dalam liang cipapnya yang lembut tapi sempit. "Lisa. Hh. Bagaimana sekarang ..", bisikku mesra. Ia memandangku dan tersenyum malu. "Mm .. Sedap Bang .. Rupanya nikmat ya Bang ..", ujarnya terus terang.Belum sempat dia selesai berkata-kata, aku tarik kepalanya dan mengulum bibirnya yangg nakal itu, Lisa membalas. Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Lisa langsung mengulumnya hangat. Kurayapkan kedua jemari tanganku di belakangnya. Mengusap dan menyelusuri tubuhnya dari bahu terus ke bawah. Di bahunya yang hangat dan padat.Kuramas-ramas dan ketika tanganku bergerak ke lingkaran ponggongnya yang bulat merangsang. Aku pegang dan remas sepuasnya. Aku mulai menggoyangkan ponggongnya aku gesel tubuh Lisa yang telanjang terutama di bagian selangkangannya dimana batangku masih terpacak. Menekan cipap kecil milik Lisa yang lembut, betapa nikmatnya kurasakan.Lisa menggeliat kegelian namun ia sama sekali tak menolak. Batangku terasa senak bergesel dengan dasar liang cipapnya. Lisa hanya merintih kesedapan dan memekik kecil. "Aahh .. Sedap Banngg ..", erangnya membuatku makin terangsang. "Aahh .. Lisa .. Cipapmu .. Nikmat .. Sshh ..", aku melenguh keenakan. "Goyaang Bbaanng .. ", bisiknya hampir tak terdengar. Manja. Aku menuruti kehendaknya. Aku goyang perlahan-lahan. Sambil aku cium bibirnya dengan bernafsu, dan iapun membalas dengan bernafsu. Nafasnya mendengus-dengus. Batangku menggesel-gesel liang cipapnya dengan agak kasar. Lisa memeluk ponggongku dengan kuat, ujung jemari tangannya menekan punggungku dengan keras.Kukunya terasa menembus kulitku. Tapi aku tak peduli, aku sedang melayang-layang menikmati tubuhnya. Lisa merintih-merintih dalam cumbuanku. Beberapa kali ia mencoba menggigit bibirku, namun aku tak peduli. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu mengemut ketat batangku. Seakan ketika kutarik keluar batangku.Seolah vaginanya mau ikut sama. Agghh. Nikmatnya luar biasa. Aku mendesis panjang karena terlalu nikmat. Aku tarik dan sorong batangku. Keluar masuk menyenggol liang cipapnya. Aku rasa dah tak tahan. Nak klimaks. Lisa kulihat seperti terawang-awang perasaannya. Kedua jari tangannya mengusap-usap perlahan yang berkeringat. Aku kembali mengecup bibirnya. Mengajak bercumbu, Lisa menyambut bibirku. Aku mulai menggerakkan ponggongku turun naik. Tetapi lambat dan teratur. Kutarik perlahan batangku keluar dari kemutan liang cipapnya. Perlahan-lahan batangku kusorongkan kembali di celah liang hangatnya. Vaginanya kembali mengemut lembut kulit batangku. Kemutan liang cipapnya kembali menahan laju gerakan masuk batangku. "Aagghh", kembali aku mengerang menahan rasa nikmat yang tiada tara saat itu. Lisa menjerit kecil lalu merintih-rintih pelan diantara rasa nyilu dan nikmat. Aku tekan ponggongku lebih ke bawah sampai seluruh batangku tidak ada lagi yang tersisa di luar celah cipapnya, kutekan dan kutekan sampai kurasakan diantara kemutan ketat bibir dan liang cipapnya kepala batangku menyentuh dasar cipapnya. Mulut rahimnya. "Aaghhghh", Lisa kini mengerang-erang mulai merasakan nikmatnya permainan indah ini. "Oouuhwhww .. Bangg .. Lisa ssee .. Ssedapp .. Nyee .. Oouuhhww .." ia kembali mengerang kenikmatan. "Aahhgghh .. B.. Bangg .. Aahhghgh. Nikmat b .. angg ..", erangnya lagi. Saat itu seluruh batangku kembali kubenamkan ke dalam liang cipapnya secara perlahan. Kedua jemari tangan Lisa mengusap-usap dan mencekam-cengkam kedua belah ponggongku yang terus bergerak turun naik secara lembut menyetubuhinya. Badannya ikut bergoyang pelan naik turun bahkan kekadang mengayak-ayak seirama dengan tarikan.Beberapa kali dia melepaskan kucupannya dan mendesah lembut melepas rasa nikmat. Dia sudah mulai terbiasa dengan gerakan permainan ini. Aku tarik dan sorong batangku dengan penuh kenikmatan. Kekadang aku sengaja aku main-mainkan kepala batangku di alur cipapnya. Aku sondol-sondol batu permatanya. Tubuh Lisa bergetar-getarku rasakan. Dan ketika Lisa mengerang-erang kenikmatan. Aku hentak batangku masuk sampai ke dasarnya kembali. Tubuh Lisa terangkat-angkat bila aku lakukan begitu. Itu yang menjadi keseronokanku. Menikmati tubuh seorang dara sunti. Tiba-tiba tubuh Lisa mengejang dan bergetar lembut. Mulutnya mendesis dalam kuluman bibirku. Kedua kakinya tiba-tiba dihentakkan ke belakang ponggongku. Sambil ponggongnya diayak-ayak. Aku rasa liang cipap miliknya terkemut-kemut membuat batangku seakan diramas-ramas kuat. Tubuhku ikut merasakan kenikmatan yang amat sangat. Aku biarkan lagi batangku terbenam di dalam liang cipapnya yang sedang berkemut-kemut itu. Suatu cairan yang hangat dan licin mulai membasahi seluruh batang. Lisa menjerit kecil dan melenguh panjang. Aku tau. Lisa dah klimaks lagi. "Aagghh .. Oouuhh ..", erangnya nikmat. Kubiarkan Lisa menikmati klimaksnya.Sambil kurendam batangku seketika. Mata Lisa terpejam rapat. Kemudian aku terus berdayung di dalam kehangatan cairan klimaksnya. Semakin laju dan laju. Aku tak dapat menahan. Air maniku mengalir deras menuju ujung batangku. Aku mencoba menahan lagi.Tersengguk-sengguk batangku jadinya. Namun akhirnya aku menyerah. Aku benamkan seluruhnya batangku dan seterusnya ikut melepaskan rasa nikmat yang tertahan dan mencapai puncak nikmat. Air maniku menyembur tumpah keluar dari dalam liang cipapnya."Aaghh", akupun meraung keras, melepaskan segala perasaan yang tertinggal. Dansambil tanganku menautkan ponggong Lisa dan Lisa ayak-ayak tanpa kupinta. Merasakan kehangatan air maniku di dalam vaginanya. Tubuh kami sama-sama bergetaran dan mengejang. "Oouuh .. Bbaanngg .. Oouugghh ..", Lisa melenguh melepas klimaknya."Hhgghh ... Lii .. Sa .. Hhghgghhg ... Oouhh nikmatnya ...", erangku sambil menikmati.Batangku terlena sesaat memuntahkan air maniku di dalam liang cipapnya. Kugoyang-goyang pinggangnya ke kiri dan aku sudah tak berdaya mengangkat tubuhku lagi. aku rasakan liang cipap Lisa mengendur. Tiba-kedua kakinya terkulai lemas tak bertenaga.Akhirnya akupun ikut terkulai layu di atas tubuhnya. Aku benar-benar sangat letih namun penuh dengan kenikmatan. Kami berdua hanya mendesah panjang merasai sisa-sisa kenikmatan yang masih tersisa. Aku memeluk erat tubuh Lisa, lalu kukulum bibirnya dengan lembut, lalu aku berguling di sampingnya, batangku menggelungsur keluar dari dalam liang cipap yang kini sudah licin. Ia merintih ngilu. Aku menghempaskan tubuhku di samping tubuh telanjang Lisa yang putih mulus berpeluh. Kelemasan. . Tamat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Label