Jumat, 30 Maret 2012

siswi smp menjual kawannya




Keesokan harinya, selepas meeting dan menguruskan segalanya yang perlu dengan Ibu pejabat, aku balik ke Hotel. Waktu sudah petang. Dekat pukul 7.00 petang. Biasalah tu. Kalau tak kerjapun buat-buat ada kerja. Aku seperti biasa mandi dan bersiap-siap. Sementara itu aku menunggu kedatangan ayu. 

Seperti semalam Akupun turun dari Hotel dan akan menapak ke medan selera. Sampai saja aku di Hotel Lobby aku nampak ayu. Tetapi bukan seorang. Ada seorang lagi bersamanya. Seorang gadis sebaya dengannya. ayu waktu itu pakai T-Shirt dan Skirt pendek. Seorang lagi berpakaian baju kurung tapi tak pakai tudung. Nampak ayu aja. Winnie nampak aku dan tersenyum. aku balas balik senyum dia dan terus mendekati mereka. Kujulur tangan aku. Berjabat salam dengan ayu. Kemudian ayu memperkenalkan aku dengan kawan dia. 

"Ni, kawan ayu" Katanya sambil tersenyum. 
"Hello" kataku. 
"Hi" sapanya kembali. Kami bersalam. Dia tersenyum dan aku balas senyumannya. 
"ayu mau pinjam kamar boleh gak. Kita orang mau mandi". ayu berkata kemudiannya. 
"Boleh. Apa salahnya. Tapi jam kita makan dulu. Abang belanja makan. Abang tengah lapar ni" kataku. 
"Kita orang sudah makan lah. Sebelum datang tadi. Sorry ya". Jawab ayu. 
"Macam ni la. ayu dan kawan ayu masuk kamar. Mandi. Kita jumpa nanti. Okay". Kataku

Naik de, sampai tingkat kamar aku. Dari jauh, aku nampak kamar tak berkunci. Ahh. Sudah. Apa dah jadi ni. Bisik hatiku. Slow-slow aku tolak pintu tu. Aku nampak ada sorang tengah tidur atas kasur
"Dear Abang, maafkan ayu kerana tidak menunggu kepulangan Abang. Semasa Abang membaca surat ayu ini, ayu kemungkinan telah bersama dengan lelaki lain. Sebenarnya, semalam itulah kali pertama ayu melakukannya. Pengalaman bersama Abang akan ayu bawa untuk mendapatkan uang perbelanjaan ayu". Bla. Bla. Dan seterusnya 
Okaylah. Selepas aku baca surat ayu, aku beralih ke tepi ranjang. Aku lihat kawan ayu sedang tidur nyenyak. Berselimutkan comforter yang disediakan oleh pihak hotel. Dalam kepala aku berfikir sesuatu. Kenapa pulak dia ni tak ikut ayu. Dalam hatiku berdetik. Lama juga aku perhatikan dia. Tak lama kemudian dia menggeliat. Dia membuka mata dan terus duduk. Tubuhnya masih di dalam comforter. Sambil tersenyum manis, gadis itu menyapaku. 

"H.. Hai.., d... Dah lama b... Balik..". 
"Dah lama juga" jawabku seramah mungkin sambil tersenyum. 

Dia amat gugup bila mahu bertanya kepadaku. Mungkin dia malu. Tetapi soalnya kenapa dia sengaja mau ditinggalkan oleh ayu. 

"Mana ayu?", Tanyaku pura-pura tak tau. 
"Eehrr.. ayu.. Itu.. Dia.. Dia.. Bang.. Entah.. Tak.. Tau..", jawabnya dengan suara terbatah-batah. 

Akupun segera duduk di birai kasurl. Sebelahnya. 

"Ooh.. Jadi.. ayu tingalkan adik seorang- lah ya?", aku terus bertanya. 
"Mm..". Dia mengangguk. Semakin tak tentu arah melihatku duduk di sebelahnya. 
"Sekolah lagi kan. Tingkatan berapa Dik?", tanyaku memanfaatkan kesempatan yang ada. 
"Mmph. A.. Aa.. Ting.. Katan.. Empat.. Bang..", jawabnya terbatah-batah. Gugup dan malu. 
Wajahnya nampak merah padam. Jelas pada kulitnya yang putih bersih, kelihatan manis dan ayu. Bibirnya yang merah dan kecil tersenyum malu sambil memperlihatkan giginya yang putih. "iih. Adik ini kenapa malu-malu. Tak suka ngobrol dengan Abang ye", pancingku."Mpphh .. Tt .. Tak .. Aah ..", jawabnya sambil tersenyum manis. Makin berani dia ni. Pikirku."mmh. Boleh Abang tau nama adik?", tanyaku kemudian. "Mm ...". Dia tak menjawab, tapi senyumnya semakin manis. Tersipu malu. "Mm .. Mm .. Mm .. Kenapa Mm .. Aje he .. He .. Tak apa kalau tak bisa. Abang cuma ta ..". "Mm .. Lisa Bang", tiba-tiba ia memotong kata-kataku."Oo. Lisa. Cantik ye nama tu. Oh ya, Nama Abang ..", sahutku sambil mengulurkan tangan kepadanya. Mula-mula dia malu-malu, namun akhirnya ia meraih tangan kananku. Kujabat erat tangannya yang agak kecil, halus mulus sekali, macam tangan Winnie jugak. "Abang datang sini business ye", tanyanya makin berani. "Iyaa. Kenapa?" tanyaku kembali. "Tak. Saja je tanya. Tak bisa ke" Jawabnya makin manja. kuberanikan diriku. Segera aku mencoba menarik tubuhnya dekat di sampingku. Dia sesuai dengan manja. Comforter yang pada mulanya menutupi tubuhnya. Jatuh ke bawah memperlihatkan bajunya. Melihat reaksinya itu tanpa terasa batangku tersengguk-sengguk. Mulai mengeras. Aiihh. Bisa ni. Bisik hatiku. Aku segera memeluk tubuh kecil molek yang seksi itu dan dengan perlahan aku cium pipinya yang putih bersih itu dengan bibirku. Lisa gemetar dan kaget melihat tindakanku yang terlalu berani, lalu segera menarik pipinya. Aku jadi tak sedap hati dibuatnya. "Eeh. Abang ni. Beraninya", Lisa memandangku. Namun dia sempat melirik tersenyum. "Biasa la" jawabku.Mempertahankan diri. Aku segera mencoba mengendalikan diri kembali, sambil tersenyum manis. Aku segera meraih tangannya dan kutarik turun dari ranjang. Sambil kupegang tangannya erat-erat. Dingin aje. aku tatap wajah manisnya yang sangat innocent itu.Wajahnya masih mulus dan terlihat malu-malu, tapi aku tau. Dia ni mau merasakan bagaimana nikmatnya bersama pria. Mungkin Winnie telah menceritakan kepadanya. Ini merupakan peluangku untuk mendapatkan seorang lagi dara sunti. Bisik hatiku. Sambil terus tersenyum manis aku berkata padanya. "Lisa. Tadi tu. Abang rasa dah tak tahan. Lisa tak biasa ke?", tanyaku. "Mm .. Tak. Ta.k Tak.k?" Lisa seakan tetap gemetar. Lisa berjalan menuju ke kusyen. Tubuhnya yang hanya setinggi bahuku itu melenggok asyik. Meskipun kecil tapi tubuhnya gebu dan kelihatan seksi sekali. Tentu yang di dalam lebih lagi. Hati kecilku berkata. Ponggongnya yang bulat terkulat-jamur menggelek seksi, sedang kedua kakinya kelihatan agak kecil, maklumlah masih sunti. Meskipun dia memakai baju kurung tapi agak ketat sehingga aku dapat lihat bentuk buah dadanya. Meskipun tidak sebesar kepunyaan Winnie. Sangat merangsang sekali. Seorang gadis yang tubuhnya mulai mekar berkembang seperti mekarnya sekuntum bunga di dalam taman. Batang aku mulai keras kembali. Lisa menghempaskan ponggongnya di kusyen. aku segera mendekatinya dan duduk rapat di sampingnya, aku pandang wajahnya. Bibirnya yang kecil terlihat basah dan ranum kemerah-kemerahan tanpa lipstik. Mm. Ingin rasanya aku kucup dan kulum bibirnya yang indah itu. "Lisa ni cantik la.", godaku. "Boleh tak kalau Abang cium Lisa." kataku semakin nekad walaupun aku tau ​​tak perlu aku katakan begitu. "iih. Abang ni .. Ahh ..", jawab Lisa. Tapi aku tau ​​dia bersandiwara. aku jadi semakin berani dan bernafsu. "Lisa. Jangan takut ya. Apa yang Abang nak. Lisa pun nak. Oleh itu. Terus teranglah". Kataku. Tanpa aku sadari kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku heran dengan kata-kataku sendiri seolah-olah ada yang memaksaku untuk mengatakan begitu. Sementara itu mata Lisa memandang ke arahku, wajahnya yang putih. Manis merah padam jadinya. Bibirnya yang kecil merah merekah dan tampak basah. "Bangg ..", hanya kata itu yang diucapkannya, ia hanya memandangku tanpa sepatah katapun. Aku mengambil inisiatif dengan menggenggam erat mesra kedua belah tangan kecilnya yang halus mulus. "Betulkan. Apa yang Abang kata "Selesai aje aku berkata begitu aku dekatkan mukaku ke wajahnya, dan terus aje aku mengecup bibirnya dengan lembut. Bibirnya begitu hangat dan lembut, terasa nikmat dan manis. Hidung kami bersentuhan lembut sehingga nafasnya kudengar terputus-putus, namun Lisa tidak menolak, aku kulum bibir bawahnya yang hangat dan lembut, kusedut sedikit.Nikmat. Kali kedua aku mengucup bibir seorang gadis dara sunti. Mengasyikkan. Tidak lama kemudian, aku lepaskan kecupan bibirku. Aku ingin melihat reaksinya. Saat aku kucup tadi rupanya Lisa memejamkan kedua belah matanya. Dengan mata yang kuyu dia memandangku. Wajah manisnya begitu mempesonaku, bibir kecilnya yang kukucup tadi masih setengah terbuka dan basah merekah. "Cammnana. Lisa okay tak? Okay. Kan", tanyaku sambil menahan nafsuku yang bergelora. Tanpa disadari oleh Lisa batangku sudah tegang tak terkira, karena batangku mengarah ke bawah, sakitnya terpaksa kutahan. Rasa senak pun ada. Aku kucup bibirnya lagi karena aku tak tahan dengan nafsuku sendiri, namun dengan cepat Lisa melepaskan tangan kanannya dari remasanku, ditahannya dadaku dengan lembut. Aku tak jadi mengucupnya. "Bang." Lisa berbisik perlahan, terlihat takut dan gemetar. "Kenapa. Malu lagi?", hanya itu yang terucap. Pikiranku telah dikuasai oleh nafsu.Tak tau nak cakap apa. "Tapi Bang. Lisa takut Bang" "Takut apa. Cakap. La. Tak ada yang perlu Lisa takutkan. Percayalah", pujukku meyakinkannya. Tanpa kusedari kubasahi bibirku sendiri. Tak sabar ingin mengucup bibir kecilnya lagi. Batangku semakin keras. Selain sakit karena salah parkir. Makin membesar, bayangkan aja aku sudah tinggal beberapa babak lagi keinginanku akan dipenuhi, bayangan tubuh gebu. Telanjang bulat. Tak berdaya. Siap untuk di santap. Dara sunti lagi. Ahh alangkah asyiknya. Tanganku bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas jemari tangan. Kini mulai meraba ke atas. Menyelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu kuramas lembut. Kupandang busut bulat bak putik kelapa dari balik bajunya. Terlihat tonjolan penuh berisi daging montok yang sangat merangsang. Jemari tanganku gemetar menahan keinginan untuk menjamah dan meremas bukit montok itu. aku lihat Lisa masih memandangku. Tergamam. Namun aku yakin dari wajahnya. Dia telah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora. Dan aku rasa dia tahu.Aku telah siap untuk menerkam dirinya. Menjamah tubuhnya. Meremas dan akhirnya akan menguasai dirinya luar dan dalam sampai puas. aku senyum dan berhenti namun bisikan-bisikan di belakangku seakan mengatakan, "Lanjutkan". Kini jemari tangan kananku mulai semakin nekad mengusap bahunya yang sedang mekar itu dan ketika jemariku merayap ke belakang, kuusap belahan ponggongnya yang bulat lalu kuramas-ramas. Aduuh mak. Begitu asyik, hangat dan padat. "Aahh. Bang", Lisa merintih perlahan. Semakin lemah. Saat itu jemari tangan kananku bergerak semakin menggila, kini aku bergerak menyelusup ke belah depan pangkal pahanya yang padat berisi, dan mulai mengusap bukit kecil. Bukit cipapnya.Kuusap perlahan dari balik kainnya agak licin, kemudian dengan perlahan aku selak kainnya ke atas dan kulekapkan jemari tanganku di tengah selangkangannya. Dan aku genggam perlahan. Lisa menggeliat kecil, saat jemari tanganku mulai meremas perlahan. Terasa lembut dan hangat di balik celana dalam putihnya. Kudekatkan mulutku kembali ke bibir kecilnya yang tetap basah merekah. Hendak menciumnya, namun Lisa menahan dadaku dengan tangan kanannya. "iih. Bang .. Aah .. Bb .. Bang .. Jangan ganas-ganas ya Bang", bisiknya. Nafasnya turun naik. Laju. Kena dah dia ni. Pikirku. Menang. Jari jemari tanganku yang sedang berada di sela pahanya itu terus kumainkan peran. Aku lupa diri, dan aku tak peduli akibat nanti. Yang terfikirkan saat itu, aku ingin segera menjamah tubuh Lisa, merasakan kehangatannya, bermesra dengannya sekaligus memagut dan merasakan nikmat keperawanannya sampai nafsuku dipenuhi. Tanpa membuang waktu segera aku mengucup bibir kecilnya dengan penuh gairah. Kuhayati dan kurasakan sepenuh perasaan kehangatan dan kelembutan bibirnya itu, aku gigit lembut, kusedut ramah. Mm nikmat. Dengus nafasnya terdengar tak menentu sewaktu aku kucup dan kulum lidahnya. Cukup lama. 

Bersambung. . .. . .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer