Jumat, 30 Maret 2012

agar Nasi jangan cepat basi

 Masak nasi dengan dandang, kuno! Ada cara praktis, cuci beras, masukkan ke peralatan masak nasi elektrik, pencet tombol. Setengah jam kemudian, nasi pun matang. Mau hangat terus, juga bisa. Beberapa orang mengeluhkan memasak nasi dengan peralatan elektrik ini membuat nasi cepat basi. Kenapa ya?

Kerja bareng
Bagian penting dari sebuah peralatan masak nasi elektrik yang amat menentukan kualitas nasi ada empat, yakni elemen pemanas (heater), pengendali temperatur (termostat), wadah tempat menanak nasi (jar), dan bagian pengeluaran uap (steam outlet).

Heater yang bekerja menghasilkan panas baru bekerja bila ada arus listrik yang mengalirinya. Itu sebabnya, saat menanak nasi kita harus memencet tombol ON. Daya heater tiap peralatan masak nasi elektrik bervariasi, rata-rata antara 50 - 80 watt.

Heater tidak bisa bekerja sendirian, melainkan bersama dengan termostat yang bertugas memastikan temperatur nasi berada dalam rentang temperatur 75 - 80 derajat Celcius. Nasi, tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Bila nasi sudah panas, termostat akan memutus aliran listrik ke heater agar pemanasan menjadi OFF. Sebaliknya, bila nasi sudah mulai dingin, bagian ini akan memberi informasi pada heater agar ON kembali.

Nasi yang berada dalam rentang tadi tidak akan cepat basi. Tetapi, yang terjadi kadang respons termostat tidak sempurna sehingga temperaturnya turun hingga di bawah minimum. Bila ini terjadi, nasi cenderung berair dan cepat basi.

Kedua elemen listrik tadi sangat berkaitan dengan tegangan listrik. Di negeri kita, tegangan listrik yang harusnya 220 V sering tidak stabil terutama pada saat beban puncak yang terjadi pada malam hari, atau jika ada masalah gangguan suplai listrik. Tegangannya bisa turun hingga 180 V atau malah kurang dari itu. Akibatnya, heater yang didesain untuk tegangan 220 V tidak mampu menghasilkan panas yang cukup. Kinerja heater dan termostat pun terganggu dan berdampak buruk terhadap kualitas nasi. Nasi berair dan cepat basi.

Jalan keluar terbaik adalah memasak nasi secukupnya setiap pagi agar nasi selalu habis saat makan malam, dan peralatan masak nasi yang bisa sekaligus menghangatkan nasi tidak perlu bekerja menghangatkan nasi pada malam ini. Cara lain, bila ada nasi yang berlebih, simpanlah di lemari pendingin untuk kemudian dihangatkan kembali esok paginya.

Bau yang menempel
Wadah tempat menanak nasi juga ikut mempengaruhi kualitas nasi. Wadah yang pernah digunakan untuk menghangatkan nasi basi, bau basinya akan menempel di pori-pori wadah, terutama wadah yang memiliki lapisan antilengket, juga di seal karet dan tutup peralatan. Gara-gara bau yang menempel ini, nasi yang tidak basi pun akan mengeluarkan aroma basi.

Yang terakhir adalah bagian pengeluaran uap. Bila lubang pengeluaran uap tersumbat sesuatu, entah itu nasi, lubang cenderung lembab dan menjadi tempat yang nyaman bagi bakteri pembusuk. Uap air yang melewati bagian ini lalu terkontaminasi bakteri tadi dan nasi pun cenderung lekas basi.

Jadi, sesungguhnya nasi basi belum tentu salah peralatannya. Ketidaktahuan kita tentang seluk-beluk peralatan ini bisa jadi menjadi penyebabnya.

6 Kesalahan Ketika Memasak Nasi



Masyarakat Indonesia masih bergantung pada nasi sebagai makanan utamanya. Namun, yang mengejutkan, ternyata tidak semua orang mengetahui cara memasak nasi yang benar. Berikut adalah beberapa kesalahan yang paling sering dilakukan ketika memasak nasi.

1. Memberikan terlalu sedikit atau terlalu banyak air
Ketika memasak nasi, yang Anda harapkan adalah beras yang mengembang sempurna menjadi nasi yang pulen. Namun seringkali kita memberikan air terlalu sedikit sehingga nasi menjadi keras, atau malah menjadi lembek karena airnya terlalu banyak. Jika Anda menggunakan jenis beras baru yang belum pernah Anda gunakan sebelumnya, masaklah 1/2 cup beras dengan 1/2 cup air. Sedangkan untuk beras merah, masaklah 1/2 cup beras merah dengan 1 1/4 cup air.

2. Memasak beras merah seperti beras putih
Ketika memasak beras merah, tambahkan air 1/4-1/2 cup air lebih banyak untuk setiap cup beras merah dibanding saat Anda memasak beras putih. Jangan gunakan ukuran yang sama dengan beras putih ketika Anda memasak beras merah, karena akan membuat nasi merah Anda akan menjadi keras dan terasa belum matang.

3. Menutup nasi terlalu lama
Jangan biarkan nasi dalam keadaan terus tertutup setelah nasi matang, karena uap panas yang terkurung dalam alat menanak nasi akan tetap berputar di dalam dan membuat proses pemasakan nasi tetap berlangsung meskipun api sudah dimatikan. Hal ini akan membuat nasi menjadi lebih lembek. Sebaiknya setelah nasi matang, biarkan tertutup selama 10 menit, kemudian hilangkan uap panasnya dengan cara meratakannya dengan garpu secara merata agar uap panasnya keluar dan nasi menjadi lebih pulen. Namun jangan terlalu lama mengaduknya.

4. Terlalu sering diaduk
Biasanya, Anda selalu mengaduk-aduk nasi untuk menghindari tingkat kematangan yang tidak merata. Namun, sebenarnya Anda tak perlu mengaduk nasi yang dimasak terlalu sering karena proses pengadukan ini akan mengaktifkan kandungan pati dalam nasi, dan akan membuat nasi menempel satu sama lain dan berair. Proses pengadukan yang terlalu sering juga akan membuat nasi cepat lembek dan hancur, bahkan halus seperti bubur.

5. Menambahkan garam
Nasi sebenarnya mirip dengan pasta. Jika Anda menambahkan garam ke dalam air maka nasi akan menjadi lebih cepat lunak dan hancur, padahal belum matang sempurna.

6. Menggunakan temperatur tinggi
Mulailah memasak sampai beras Anda mendidih, kemudian turunkan perlahan temperaturnya sampai temperatur rendah. Jika Anda memasak nasi dengan temperatur atau api yang terlalu tinggi, airnya akan cepat menguap sementara beras belum matang. Akibatnya, nasi akan cepat gosong. Sebaiknya, masak beras dalam suhu rendah atau api kecil sehingga suhunya akan stabil dan nasi matang sempurna.


Sumber: Shine


Sumber: Intisari Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer