Jumat, 30 Maret 2012

cara ikan memanggang dengan sempurna

 Ikan bakar pasti menjadi hidangan favorit siapa saja. Sayangnya, membakar ikan itu pekerjaan yang susah-susah gampang. Jika belum tahu triknya, bisa-bisa ikan jadi gosong, atau malahan belum matang, serta menempel di wajan atau alat pemanggang.

"Yang paling utama yang harus diperhatikan ketika membakar ikan tanpa minyak dengan wajan antilengket adalah tidak membiarkan wajan terlalu panas. Jika terlalu panas, ikan akan gosong (pada bagian luar) namun belum matang," ungkap salah satu peserta acara kompetisi memasak Top Chef yang juga pemilik restoran Talde, Dale Talde.

Kemampuan menjaga panas yang cukup diperlukan, agar ikan tak lengket, pecah, dan membuatnya sulit dibalik dan disajikan. Untuk memudahkan semua usaha Anda, ketika membakar ikan dengan wajan tambahkan sedikit saja minyak zaitun atau mentega agar panas wajan merata dan cukup panas untuk mematangkan dagingnya.

Sebaiknya Anda juga tidak membakar ikan dengan wajan dalam keadaan ikan masih utuh. Sebelumnya, potong ikan ini dengan ketebalan sekitar 3 cm, dan masak setiap sisinya selama tiga sampai lima menit.

"Ikan cenderung mampu menyimpan panas dalam dagingnya, meskipun sudah tidak dimasak lagi. Maka sebaiknya angkat ikan sesaat sebelum mencapai tingkat kematangan yang diinginkan, dan biarkan ikan matang dengan sendirinya tanpa kompor," tukas Chris Yeo, executive chef sekaligus pemilik restoran Straits and Sino di Amerika.

Cara Memilih "Seafood" Beku yang Aman


 Ketika ingin membeli seafood di supermarket, Anda pasti menemukannya dalam keadaan yang segar ataupun beku. Ketika Anda tidak berencana untuk langsung memasak makanan laut itu, maka membeli seafood dalam keadaan beku bisa menjadi pilihan. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membeli seafood dalam keadaan beku, selain tanggal kedaluwarsanya.

1. Ketika membeli seafood dalam keadaan beku, perhatikan bahan makanan tersebut dalam keadaan kedap udara, tetapi dengan kelembaban yang terjaga. Jangan membeli seafood beku dengan kemasan yang sudah robek.

2. Pilih kemasan seafood yang berada di bagian tengah. Jika memilih bagian yang paling bawah, kemungkinan seafood hancur lebih besar. Jika memilih kemasan yang paling atas, ada kemungkinan produk tersebut adalah produk yang sudah lama.

3. Hindari risiko seafood mencair selama dalam perjalanan. Oleh karena itu, mintalah kemasan pendingin agar tidak merusak produk.

4. Perhatikan dengan baik, jangan sampai memilih makanan laut yang sudah rusak atau patah bagian tubuhnya. Misalnya, lobster yang kakinya sudah patah, atau kerang yang kulitnya sudah hancur.

5. Jika memilih untuk membeli ikan fillet, pilih yang warnanya alami sesuai dengan jenis ikannya. Banyak ikan fillet yang diberi pewarna agar warnanya jadi lebih menarik.

Hindari Kerapu dan Kakap Saat Makan Seafood



Seperti telah disampaikan dalam artikel sebelumnya (Lebih Selektif Saat Menikmati Seafood), saat ini telah terjadi krisis global perikanan laut. Penyebabnya adalah penurunan populasi yang serius pada beberapa spesies ikan, dan cara penangkapannya yang tidak ramah lingkungan.

Meskipun demikian, hobi makan ikan bakar tak perlu dihentikan. Yang perlu Anda lakukan hanya lebih selektif dalam mengonsumsi jenisnya. WWF Indonesia pun telah mengeluarkan Seafood Guide, untuk memudahkan Anda memilih jenis ikan yang masih tergolong aman. Berikut panduannya:

Hindari
Seafood dari daftar merah adalah yang harus dihindari. Makanan laut dalam daftar ini mengalami penurunan populasi yang serius di alam, dan dalam proses penangkapannya mungkin terjadi tangkapan sampingan (by-catch) terhadap satwa dilindungi. Ikan yang dimaksud adalah:

Kima raksasa, penyu dan telur penyu, dugong (kode 1), ketam kelapa, lumba-lumba, lobster/udang karang, pari manta, mola-mola, hiu (semua jenis produk), hiu paus, tuna sirip biru, tuna sirip kuning, tuna albakor, tuna mata besar (kode 2), napoleon, triton, kerapu (kode 2,3), abalonies, trochus (kode 3).

"Kerapu itu spesiesnya macam-macam, dan saat ini beberapa spesies sudah hilang di beberapa tempat," kata Imam Musthofa Zainuddin, koordinator nasional program kelautan WWF Indonesia.

Kurangi
Berhati-hatilah, dan perhatikan, saat Anda memilih seafood dari daftar kuning ini. Produk-produk ini seringkali diperoleh dengan cara penangkapan yang tidak lestari, atau tidak ramah lingkungan. Ikan-ikan tersebut adalah:

Gurita (kode 2,3), lencam/emperor, telur ikan, ikan sebelah, ekor kuning, kepiting, baronang, teripang, gerot-gerot/sweetlips, kambing-kambing, kakap, butana, kuda laut, todak, udang, pari (kode 3), dan layaran/marlin (kode 4).

Aman
Bila memungkinkan, mintalah seafood yang masih dalam daftar hijau, atau yang tergolong aman ini. Masih banyak jenis ikan yang sehat dan bergizi untuk Anda pilih. Contohnya:

Teri, barakuda, mahi-mahi, tongkol, marine catfish, bandeng, bawal, tola laut/rainbow runners, lemuru/sarden, layang, cakalang, makerel kecil, tenggiri, cumi-cumi, bobara/kue, dan ubur-ubur.

Daftar ini belum lengkap, dan belum berakhir. Jenis ikan yang disebutkan bisa berpindah kategori sewaktu-waktu. Untuk melihat perkembangan terbaru dan resep seafood, silakan kunjungi www.wwf.or.id/seafoodguide, atau www.panda.org. Anda bisa men-download Seafood Guide ini di sana.

Keterangan kode:
1. Spesies dilindungi secara hukum.
2. Perkembangbiakannya lambat dan sedikit, dan rentan terhadap overfishing atau tangkapan berlebihan.
3. Cara penangkapannya sangat merusak habitat.
4. Berbahaya bagi kesehatan karena mengandung ciguatera, atau memiliki kandungan logam berat yang terakumulasi dalam tubuhnya


(Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer