Jumat, 30 Maret 2012

manfaat buah alpukat

Meski sebenarnya buah memiliki banyak nutrisi, sebaiknya kita tetap berhati-hati saat akan menyantap buah. Lapisan lilin serta kotoran lain yang mungkin menempel pada kulit buah tak jarang bisa merusak kesehatan kita. "Bahkan sekarang ini juga ada buah yang disuntik dengan bahan kimia agar bisa cepat matang, dan lebih awet," tukas pakar nutrisi Emilia E. Achmadi MS, RD, dalam acara "Buavita Fruit Does You Good", di Birdcage, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (19/3/2012) lalu.

Salah satu tanda buah yang disuntik adalah adanya bintik-bintik hitam di permukaan kulit. Untuk meminimalisasi risiko yang dialami akibat adanya kandungan lapisan lilin dan bahan lainnya, buah harus dicuci terlebih dulu. "Pencucian buah tidak berarti bisa menghilangkan lapisan lilin dan bahan kimia ini seratus persen, namun paling tidak bisa meminimalisasi kadarnya," jelasnya.

Meski kotorannya tak hilang sempurna, paling tidak kadarnya sudah berkurang dan sisa kotoran yang masuk ke dalam tubuh masih bisa diatasi oleh sistem antibodi seseorang. Menurut Emilia, kita tak bisa sembarangan  mencuci buah. Begini cara mencuci buah yang direkomendasikannya:

1. Dicuci dengan air mentah
Ketika buah baru dibeli dari pasar, sebaiknya langsung cuci dengan air mentah agar kotoran di permukaannya hilang. Selain itu, usahakan untuk selalu mencuci buah di bawah air mengalir. Jangan sekali-kali merendam buah dalam sebuah wadah, karena hal ini akan membuat kotoran buah yang sudah terlepas menempel kembali.

2. Dicuci dengan air hangat
Setelah dicuci dengan air mentah, cuci kembali buah dengan air hangat. Air hangat ini berfungsi untuk mengurangi lapisan lilin yang ada di permukaan buah, serta bahan lainnya. Air hangat ini mudah merontokkan kotoran-kotoran yang lebih bandel di permukaan dibanding dengan air dingin. Usahakan untuk mencuci buah ini dengan cara menggosok permukaannya.

3. Dilap dengan lap bersih dan kering
Setelah dicuci, keringkan buah dengan lap yang kering dan bersih untuk menghilangkan sisa kotoran yang mungkin masih menempel akibat percikan air kotor bekas mencuci buah.

Begini Memilih Alpukat Matang



 Rasanya yang lezat membuat buah ini banyak dicari. Namun, memilih alpukat yang matang memang gampang-gampang susah, karena tingkat kematangan buah ini kadang sulit ditebak. Salah pilih alpukat, bisa-bisa Anda mendapat daging buah yang masih keras dan terasa pahit di lidah. Agar tak salah pilih, simak cara memilih alpukat yang matang dan siap disantap.

1. Hindari kulit buah yang berwarna hijau cerah
Alpukat merupakan buah yang tidak bisa matang di pohon, sehingga buah ini harus dipetik dari pohon dan disimpan sampai matang. Ketika dipetik dari pohon, alpukat memiliki warna hijau cerah dan kulit yang mulus. Hindari buah yang berwarna hijau cerah, karena buah ini pasti belum matang. Pilihlah buah dengan warna yang hijau gelap karena berarti sudah diperam dan kemungkinan sudah matang.

2. Tekstur buah
Salah satu tanda buah yang sudah matang adalah tekstur buah yang sudah empuk. Ketika ingin memilih alpukat matang, coba tekan daging buahnya. Bila sudah empuk artinya alpukat sudah matang. Usahakan untuk menekan beberapa bagian alpukat untuk memastikan buah ini sudah benar-benar matang. Pada beberapa buah, tekstur yang empuk bukan disebabkan buah sudah matang, melainkan karena adanya memar atau bagian buah yang busuk. Karena itulah Anda harus menekan buah di semua sisinya.

3. Kupas kulit buah
Coba kupas sedikit kulit buah. Jika mudah dikupas berarti buah ini sudah matang.

4. Biji buah
Ini adalah cara tradisional yang biasa digunakan untuk memilih alpukat yang sudah matang. Biji buah yang matang akan terlepas dari daging buahnya dan tidak menempel. Bagaimana cara mengetahui apakah biji buah menempel atau tidak, tanpa memotong buahnya lebih dulu? Goyangkan saja buahnya, jika biji buah tidak menempel biasanya akan terdengar bunyi biji di dalam buahnya. Selain itu buah matang juga akan terasa lebih ringan dibanding yang masih mentah.

5. Bagian bawah buah
Ketika memilih alpukat, cobalah untuk memperhatikan bagian bawah, tempat tumbuhnya bagian batang alpukat. Jika masih ada sedikit sisa batang buah, petik saja batang ini dan teliti bagian dalam buah melalui "lubang" yang ditinggalkan. Jika lubang ini sudah berwarna hijau, artinya alpukat sudah matang. Kalau masih berwarna coklat, maka alpukat belum matang.

Ramuan Alpukat Atasi Kulit Berminyak

Siapa bilang merawat tubuh membutuhkan biaya mahal, dengan ke salon yang menghabiskan biaya ratusan ribu bahkan jutaan rupiah? Bahan alami dari dapur Anda bisa diolah untuk menyegarkan kembali kulit kering dan rambut kusam, atau meremajakan kulit. Bahan segar dan organik seperti buah-buahan, bisa diracik dengan cara yang praktis untuk mempercantik diri.

Ramuan alpukat
Alpukat adalah buah restoratif, cocok untuk melindungi dan menyeimbangkan minyak pada rambut dan kulit. Alpukat juga sering disebut "buah pokok kecantikan"  karena memberikan minyak alami bergizi dan manfaat lainnya.

Vitamin A dalam alpukat menambah kemilau rambut. Sementara kandungan vitamin B didalamnya, dapat menyeimbangkan produksi minyak. Berkat alpukat, produksi minyak di kulit tubuh dan kepala, bisa dikendalikan. Buah ini menjadi solusi kecantikan untuk Anda yang memiliki kulit dan rambut cenderung berminyak. Alpukat juga kaya vitamin E yang berfungsi melindungi kulit dari sinar matahari dan polusi.

Setelah memahami manfaatnya, kini Anda bisa mulai meracik buah alpukat untuk menjadi produk kecantikan alami. Caranya, haluskan satu atau dua alpukat lalu oleskan ke seluruh rambut atau kulit.

Untuk merasakan sensasi lain merawat tubuh dengan alpukat, tambahkan alpukat yang sudah dihaluskan tadi dengan:
* 1 sdm madu organik hangat.
* 1 sdm mayonaise organik atau minyak almond.

Kemudian, oleskan ramuan alpukat ini pada wajah, tubuh, dan rambut. Kemudian tutup rambut dengan shower cap dan diamkan selama 15 menit. Lalu bilas bersih seluruh tubuh. Gunakan sampo untuk membilas rambut Anda. Mudah kan?

Penyakit tekanan darah tinggi menjadi pembunuh diam-diam setelah menyebabkan gangguan fungsi jantung, ginjal, kognitif, dan stroke. Dosen dan peneliti Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Azizahwati, mendiversifikasi sediaan obat herbal antihipertensi berupa kapsul daun alpukat.

 Azizahwati, Rabu (15/6), mempresentasikan Laporan Akhir Hibah Riset Universitas Indonesia (UI) Tahun 2010 di UI, Depok, Jawa Barat. Ia meneliti pengapsulan ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill) bersama tim yang berasal dari Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran UI, yaitu Erni H Purwaningsih, Endang Hanani, dan Sutriyo. Mereka memperoleh dana hibah riset UI tahun 2010 sebesar Rp 164,8 juta.

 Menurut Kepala Subdirektorat Riset dan Inkubator Industri UI Yasman, hibah riset UI berasal dari Program Dana Masyarakat yang diambil dari biaya operasional pendidikan (BOP) yang diserahkan oleh setiap mahasiswa yang terdaftar. Tahun 2010 tersedia dana hibah untuk 199 kegiatan riset.

 Kategori kegiatan meliputi riset awal, pascasarjana, unggulan, dan multidisipliner. Besar dana Rp 40 juta (riset awal) sampai Rp 175 juta (riset multidisipliner). ”Peneliti utama diwajibkan dari UI,” kata Yasman.

 Yasman mengakui, riset yang dikerjakan sebagian besar untuk memenuhi rasa keingintahuan para dosen atau peneliti sehingga persentase hasil riset yang dapat diaplikasikan masyarakat dan industri masih relatif kecil. Namun, tim Azizahwati membuktikan riset mereka cukup aplikatif untuk memberikan alternatif kemasan dan produk obat herbal.

Antihiperlipidemia  Azizahwati mengatakan, selain sebagai antihipertensi, kapsul daun alpukat berhasil dibuktikan sebagai antihiperlipidemia. Hiperlipidemia adalah kondisi yang disebabkan oleh kandungan lemak atau kolesterol yang terlalu tinggi di dalam darah.

Daun Alpukat untuk Antihipertensi
 Bagi penderita hipertensi, kegemukan merupakan ciri khas mereka. Daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah pada penderita obesitas dengan hipertensi akan lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal.

 Bagi yang mengalami hiperlipidemia, pola makan berlemak menjadi penyebab utama. Hal itu ditambah dengan gaya hidup kurang gerak sehingga memicu hiperlipidemia.

 Hiperlipidemia merupakan salah satu pemicu serangan jantung, yaitu manakala kolesterol dalam darah yang mengendap sebagai plak di dinding pembuluh darah menjadi runtuh serta menyumbat pembuluh darah. Hipertensi dan hiperlipidemia menjadi penyebab kematian paling tinggi saat ini.

 Azizahwati mengatakan, riset daun alpukat yang dikapsulkan akan dijadikan produk obat herbal setaraf fitofarmaka.

 Fitofarmaka bisa diresepkan dokter seperti obat-obat berbahan kimia sintetis. Proses menuju fitofarmaka harus melewati uji klinis pada manusia.

 Penelitian Azizahwati saat ini masih pada taraf uji praklinis, yaitu melakukan uji coba pada mencit (tikus percobaan). Hasil riset menunjukkan, pemberian ekstrak etanol daun alpukat memiliki efek antihiperlipidemia.

 Mencit dibagi tiga kelompok dan diberi ekstrak daun alpukat dengan dosis masing-masing 10 miligram per kilogram berat badan (mg/kg bb), 20 mg/kg bb, dan 40 mg/kg bb. Kelompok mencit yang diuji coba dengan ekstrak daun alpukat dosis 40 mg/kg bb memberikan hasil paling baik.

 Ekstrak etanol daun alpukat juga diketahui berfungsi sebagai antihipertensi pada dosis 40 mg/kg bb. Kemampuan menurunkan tekanan darah arteri rata-rata pada mencit jantan dan betina 58 mmHg dan 54,5 mmHg.

 Agar menderita hiperlipidemia, mencit diinduksi kuning telur atau lemak hewan lain ke tubuhnya. Adapun kondisi hipertensi mencit diperoleh dengan cara menginduksikan garam.

 Alat pengering yang digunakan untuk daun alpukat adalah avicel PH 101 dengan perbandingan 1:0,75 dan penambahan 8,3 persen aerosil.

 Penggunaan avicel PH 102 disebutkan sebagai formula terbaik karena memiliki kerapatan massa (bulk density) dan laju alir yang paling besar. Hasilnya mengandung indeks kompresibilitas, kadar air, dan waktu hancur paling kecil.

Maserasi

 Pembuatan ekstrak daun alpukat dilakukan dengan maserasi dengan alkohol 70 persen. Maserasi adalah merendam untuk mengeluarkan senyawa aktif pada serbuk daun alpukat. Sebanyak 300 gram serbuk daun alpukat dimaserasi dengan alkohol 70 persen, sampai mencapai rendemen 29 persen.

 Kapsul daun alpukat menjadi obat herbal terstandar yang masih harus dikembangkan menjadi fitofarmaka. Azizahwati masih membutuhkan riset lebih lanjut dengan uji coba klinis pada manusia.

 Bagi masyarakat awam, daun alpukat tidak terbayang dapat memberikan manfaat berupa menurunkan tekanan darah dan kadar lemak yang tinggi. Hipertensi dan kolesterol tinggi merupakan ancaman penyakit yang banyak mendera masyarakat.

 Riset Azizahwati berhasil membuka mata segenap lapisan masyarakat. Kekayaan alam di sekitar kita cukup bermakna dalam memberikan manfaat bagi kesehatan.



Sumber: Kompas Cetak



Sumber: www.huffingtonpost.com


(Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer