Minggu, 01 April 2012

Istri simpanan yang haus seks 1

Disinilah pertama kali aku berkenalan dengan orang tua yang belakangan ku ketahui bernama pak Broto (bukan nama sebenarnya) berusia 65 tahun, seorang direktur di beberapa perusahaan bonafit di negeri ini. Aku sendiri mahasiswa akhir jurusan Manajemen di PT negeri ternama di Bandung. Sebenarnya banyak sekali mahasiswi yang menyukaiku, sebab aku terbilang tinggi 170 cm, usia 24 tahun dan berkulit putih dengan dada bidang dan sangat atletis, karena memang aku pandai bela diri dan bermain musik. Demikian juga dengan wajahku, putih, mulus, hidung mancung dan mata mencorong tajam yang dihiasi bulu mata yang lentik dan halis yang hitam. Ditambah lagi dengan penampilanku yang selalu trendi, meskipun aku berasal dari keluarga yang serba kekurangan.
Sampai di Bandung tepat hanya satu jam dari Bogor, pak Broto sangat suka sekali. Lalu ia minta aku untuk membawanya ke sebuah hotel berbintang 5 di kota Bandung. Sesampainya di pekarangan hotel aku lihat banyak orang yang menyambutnya, tampaknya mereka sedang menunggu untuk rapat. Mobil pun kuparkirkan dan aku menunggu sampai selesai. Setelah lebih dari 5 jam, tiba-tiba ada panggilan untuk mobil pak Broto. Akupun segera meluncur, kulihat pak Broto sudah menanti sambil di dampingi para koleganya.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, “kemana kita pak?” tanyaku. “Ke Lembang?” jawabnya, “tapi kita ke Dago dulu,” pintanya. Kamipun sampai alamat di Dago yang ditujunya, sebuah rumah yang cukup mewah, gerbangpun dibukanya, mobilpun kurapatkan didepan pintu utama. Belum lagi pak Broto keluar dari mobil, pintu depan rumah sudah terbuka dan muncullah dua sosok wanita. Yang satu sudah agak tua sekitar 45 tahun, yang satu lagi ini yang narik perhatianku, tinggi semampai, taksiranku tak lebih dari 165, wajahnya bukan hanya cantik tapi manis, enak di pandang, mirip Desi Ratnasari taksiranku umurnya tak lebih dari 23 tahun. Dengan kulit yang sangat putih bersih, si gadis menggunakan gaum hitam nan seksi.Hingga kulit paha dan bagian dada yang terbelah jelas kelihatan. Namun aku coba untuk tak ambil pusing. “Apa urusanku dengan wanita itu,” gumamku.
Pak Broto, tiba-tiba memanggilku, “ambilkan tasnya dan masukkan dalam bagasi,” pintanya. Akupun keluar untuk mengambil tas yang ada di tangan si wanita muda itu, wanita muda itu menatapkan dengan penuh seksama, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, seakan tak percaya kalau potongan aku ini seorang supir. Setelah kuambil tasnya, terdengar olehku dia bertanya pada pak Broto “siapa itu?”, “supir baruku”, jawabnya.
Kamipun meneruskan perjalanan, sepanjang perjalanan pak Broto menyebut nama wanita itu dengan nama Desi, dan mereka bercanda laksana sepasang muda-mudi yang sedang mabuk kepayang. Dari percakapan yang dilakukan aku tahu kalau Desi itu wanita simpanan pak Broto. Akhirnya sekitar pukul 9.15 kami sampai di Villa Lembang yang dimaksud. Sebagai supir yang baik, aku bukakan pintu pak Broto dan Desi. Namun saat membukakan pintu untuk Desi, pandangan mata kami beradu, dan tiba-tiba Desi mengerling genit ke arahku, tanpa terlihat pak Broto, karena hanya terjadi beberapa detik saja. Setelah membukakan pintunya, lalu kubawakan tasnya ke dalam Villa.
Di Villa itu terdiri dari 5 kamar, tiga kamar utama yang saling berjauhan. Setiap kamarnya ada tempat mandi dengan bak mandi dan air hangatnya, dan tentu saja dengan kasur busa yang sangat empuk dan berbagai macam kemudahan lainnya. Satu kamar lagi agak kecil dan satu kamar lagi di belakang sana untuk sang penunggu Villa.
Aku menempati salah satu kamar utama yang berjauhan dengan kamar utama yang didiami pak Broto. Setelah mandi pak Broto mengajak saya untuk makan malam bersama. Saat itulah ku lihat Desi mencuri-curi pandang, mengerling genit ke arah aku. Perbuatannya itu membuat aku agak kikuk, karena khawatir terlihat pak Broto. Seusai makan aku langsung minta pamit untuk beristirahat, sesampai di kamar aku langsung tidur. Belum puas tidurku tiba-tiba ku dengar sayup-sayup suara langkah seseorang menuju kamarku. Sebagai atlet bela diri aku dapat mendengar dengan baik langkah halus yang menuju kamarku.
Sebagai seorang yang tahu bela diri, maka cepat aku bergerak mengintip siapa gerangan yang datang, jangan-jangan maling masuk rumah. Bukan main tekejutnya hati ini ketika kulihat siapa yang datang. Dari balik hordeng kulihat Desi hati-hati berjalan menuju kamarku dengan baju tidur yang sangat trasparan dan tak mengenakan BH, sehingga dua buah gunung yang sangat Indah itu tampak jelas. Tahu Desi akan datang maka, lampu tidur ku matikan dan lampu neon kunyalakan dan aku pura-pura tidur.
Kreeek….pintu itu berderit saat dibuka, seiring dengan itu wangi parfum yang membangkitkan nafsu birahi pun turut masuk. Meski mataku dipejamkan, tapi jantungku berdebar keras, pelan-pelan Desi menghampiriku, semakin berdebar jantung ini rasanya. Dengan sedikit agak membungkuk Desi mengoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajahku, tampaknya ia ingin meyakinkan, apakah aku tertidur atau tidak. “Wah pules juga tidurnya”, gumamnya. Lalu dia berbatuk-batuk kecil, coba membangunkan. Aku pura-pura tak tahu. Melhat aku tak bergerak, lalu Desi duduk di samping kasur busaku dan memegangi kakiku, dan dicabutnya satu dari bulu kakiku. Tersontak aku kaget dan pura-pura terbangun.
Kulihat Desi tertawa kecil menunjukan kemenangannya, hi…hi…hi…, “Oh maaf kok ada Tante disini”, sapaku pura-pura gelagapan. “Ya, bangunlah ada yang ingin aku bicarakan,” katanya. Dengan sigap aku bangun, dan mempersilahkan Desi untuk duduk di Sofa. Lalu aku minta ijin untuk ke kamar mandi mencuci muka. Setelah itu ku hampiri Desi. Ketika aku menghampiri, Desi memandangku dengan seksama. Aku jadi agak risih dipandangnya seperti itu.
Setelah dekat, aku duduk di sofa, sambuil berkata, “ada apa tante malam-malam begini, ada yang bisa saya bantu, bagaimana kalau nanti ketahuan pak Broto?,”kataku.
“Jangan takut pak Broto sudah kecapaian, habis perjalanan jauh, rapat dan main dengan aku, lalu minum obat, baru besok jam 10 pagi dia bangun,” paparnya.
“Cerdasku juga orang yang mirip Desi Ratnasari ini,” pikirku.
Tadi aku main dengan orang tua itu, dia terpuaskan, tapi aku kini yang tersiksa,” sambungnya.
“Main apa?” tanyaku berlagak pilon.
“Ah kamu berlagak bodoh”, jawabnya.
“Serius Tante,” kataku meyakinkan.
“Jangan panggil aku tante, panggil aku Desi,” pintanya sambil menghampiriku.
Desi lalu duduk di meja kayu jati itu, “Dudi terus terang kamu ini supir, anak atau masih ada kerabat dengan pak Broto atau kau staf ahlinya di kantornya,” tanyanya. Sambil memandangku penuh selidik.
“Ada apa memangnya?” tanyaku.
Kau tak pantas jadi supirnya, “kau terlalu tampan, gagah dan menggairahkan,” katanya. Ah tante….eh….Desi bisa aja, kataku gagap.
“Aku serius,” katanya membantah.
“Dud mau kau tolong aku,” tanyanya. Sambil berdiri di depan mukaku, sehingga demikian jelas terlihat kedua susunya yang mancung, padat berisi, nan putih itu di balik baju tidurnya yang transparan itu. Putingnya kulihat dengan jelas sudah agak menegang. “Apa yang biasa saya bantu tante…eh…Des,” kataku gugup. “Dud kau tak mengerti, sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah merindukan untuk dibelai dan tidur denganmu, dan….,” ucapnya penuh permohonan. Belum lagi kata-kata itu selesai Desi sudah merangkul dan mendekapku diantara buah dadanya yang indah itu.
Aku jadi gelagapan, belum lagi aku sempat berbuat sesuatu, Desi sudah menurunkan baju tidur bagian atasnya, sehingga kini buah dada itu tampak jelas tanpa penghalang apapun. “Dudi, ayo dud……, aku sudah tak tahan,” katanya lirih menahan gelora nafsunya. Melihat ini aku tak tega rasanya membiarkannya menderita. Maaf Des….belum lagi selesai, Desi memotong “Dud buatlah sesukamu,” katanya. Dan baju tidur itupun kini sudah terkapar di lantai. Tinggal cdnyalah yang masih melekat pada tubuhnya. Sekarang tampaklah tubuhnya yang putih bersih, mulus nan indah.
Akupun berdiri, kudorong perlahan tubuhnya, kucium bibirnya, dan kuhisap lidahnya, Desi pun merintih agh……agh…..augh………augh………….menahan kenikmatan. Desi pun membalas dengan penuh nafsu birahi, sementara itu tanganku mengusap-ngusap punggungnya yang putih laksana salju dan membelai-belai ramputnya yang hitam. Sementara itu tangan Nani sibuk membuka kamcing baju piamaku, dan tak lama kemudian baju ataskupun terbuka sudah.
Setelah lama kulumat bibirnya, mulutkupun kini mulai menciumi lehernya yang putih itu. Oh………iiiiihhh…….iiiiiiiiihhhhhh………geliiiii………augh………enaaaaaaakkkkkkk……..
terdengar Nani merintih menahan rangsangan yang luar biasa saatku kuciumi bagian lehernya. Setelah lehernya akupun beranjak ke arah bagian belakang kupingnya, dan Desipun bergumam ooooohhhh…….iiiiihhh…….iiiiiiiiihhhhhh………geliiiii………augh………
Pada saat yang sama tanganku sudah bergerilya ke teteknya yang indah itu. Susu Desi memang indah, ukurannya tak terlalu besar, menonjol penuh tantangan, selain memang berkulit kuning langsat, kelihatan sekali jarang disentuh oleh pria. Mula-mula kusentuh putingnya yang sudah menegang, lalu perlahan tapi pasti mulai kuremas-remas kedua tetek itu. Desipun merintih terussssss…….teruuuuuuussssssss…… auuuuuugh…….. oooooohhhhhhhhhhh…………….dan akupun terasa terpacu untuk terus meremasnya.
Kini giliran mulutku yang bergerak dari leher ke arah dadanya. Sesampainya di puncak gunung kujilat perlahan putingnya secara bergantian. Jilatan ini tampaknya memberikan rangsangan luar biasa bagi Desi, maka iapun menjerit auuuuuugh…….. oooooohhhhhhhhhhh…………….auuuuuuuugh………… enaaaaaaakkkkkkkk ………..sambil mendekapkan susunya kemukaku. Setelah kujilati perlahan, kini giliran yang jauh lebih nikmat. Perlahan-lahan mulai kuhisap puting yang berwarna coklat muda, semakin lama hisapan semakin dalam dan akibatnya luar biasa Desi menggelinjang-gelinjang sambil memegangi kepalaku. Pada saat yang sama mulutnya merintih gila……..augh……….enaaaaak………Dud……………..teruuuuuussss………….. oooooohhhhhhhhhhh…………….auuuuuuuugh………… enaaaaaaakkkkkkkk ………..Dan akupun semakin menjadi-jadi dalam menghisap kedua putingnya secara bergantian. Dan Desipun semakin terangsang dengan amat hebatnya, yang dibarengi dengan jeritan-jeritan kecil seperti orang yang mengigau.
Saat merintih panjang tiba-tiba aku berhenti menghisapnya dan melepaskan pelukannya, Desi agak terkejut, namun cepat kubisikan, “tunggu sebentar”. Sebelum Desi sempat berbuat sesuatu kuambilnya madu dalam botol yang tersedia di kamar itu. Melihat aku mengambil madu, Desipun tak diam, dibukanya cd yang bermerek Triumph itu. Saat aku balik lagi, tubuh Desi sudah tak terlindungi sehelai benangpun, Kulihat tubuhnya yang kini makin sempurna tak ada satu cacatpun dalam badannya yang tanpa penghalang apapun, di bagian bawah kulihat bulu-bulu yang belum lama bekas dicukur.
Dengan sigap kubuka tutup botol madu itu, Desi bertanya “untuk apa?” “untuk terbang lebih tinggi,” jawabku, Desipun mencubit genit. Lalu kutuangkan sedikit madu itu kejari-jemariku yang kuoleskan ke kedua puting kecoklatan itu. Desi menjerit kecil ih….ih…..ih…..antara kebingungan dan geli. Namun setelah itu Desi menjerit dengan suara yang lain augh………augh………augh……… sambil tubuhnya mengelinjang-gelinjang menahan rangsangan.
Lima belas menit telah berlalu aku bermain di atas puncak gunung kenikmatan. Lalu mulutkupun bergerak ke arah perutnyanya yang penuh wangi parfum yang menggairahkan itu. Kuciumi perutnya sambil terus turun ke bawah ke arah gua kenikmatan. Posisi Desi yang berdiri itu lalu kusuruh duduk di sofa, tanpa diperintah lagi Desi membuka selangkangannya lebar-lebar sehingga tampak gua kenikmatan itu. Perlahan tapi pasti mulutkupun mulai mengarah ke arah gua itu.
Kulihat itil Desi sudah agak memerah, bibirkupun mulai usil, kugigit dengan bibirku itilnya yang agak memerah itu. Desipun menjerit auw……auw…..hayo teruuuuuussssss, jeritnya dan mulailah kujilati itilnya itu, bukan main dampaknya, Desi menjerit-jerit, auw………auw……aduh ………..enggak tahan……….auuuuuuuugh………… auuuuuuuuugh………auuuuuuuugh………dan terus menjerit-jerit.
Melihat Desi yang menjerit-jerit aku semakin menjadi-jadi, kali ini kuolesi lagi itil dan dinding memeknya dengan madu. Lalu kujilati dengan lahapnya laksana menjilati permen, tapi kali ini bukan permen melainkan memek rasa madu. Desi semakin menjerit-jerit enggak tahaaaan………….terus……..masukiiiin………ayo terusss……..auuuuuugh…….enggak tahaaaaannnn………tiba-tiba Desi mengangangkat pantatnya dan kedua pahanya menjepit kepalaku dan tangannya menekan kepalaku ke arah memeknya. Gerakan Desi ini membuatku menjadi susah bernafas, karena lubang hidungku tertutup memeknya. Tapi aku mengerti kalau Desi akan orgasme, maka jilatankupun semakin menjadi jadi, lubang memeknya yang merah itu sudah kuolesi madu semakin kujilat, sehingga bisa dibayangkan betapa nikmatnya Desi merasakan jilatan itu.
Duuuud…………..enggak tahaaaaaaaaaaaaan………..aku keluuuuuuuaaaaaaar………..
auuuuuuuuuugh…………auuuuuuuuuugh……..auuuuuuuugh……..Desi menjerit panjang dan mengejang. Sambil berteriak Desipun semakin mengangkat pantatnya dan semakin menjepit pahanya dan menekan kepalaku. Jilatankun mulai ku kendorkan, untuk memberi kesempatan agar cairan putih itu keluar. Di tengah jeritannya itu keluarlah cairan putih, bagaikan bendengan jebol, keluar dari memeknya.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer