Kamis, 12 April 2012

Hindari bahaya stres pada anak

 
Siapa bilang hanya orang dewasa saja yang bisa terserang stres? Anak-anak pun bisa. Biasanya orang dewasa terserang stres karena masalah pekerjaan, keuangan dan lainnya. Bagaimana dengan anak, apa pemicu stres mereka?

"Faktor penyebab anak menjadi stres adalah perilaku dari orangtuanya sendiri," tukas Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital kepada Kompas Female, saat talkshow "How to be a Healhty & Productive Career Women" di Thamrin Nine, Jakarta Pusat, Jumat (27/1/2012) lalu.

Menurut Rustika ada beberapa perilaku orangtua yang tidak disadari bisa menimbulkan tekanan pada anak, yang pada akhirnya mengakibatkan stres. Berikut beberapa penyebabnya:

1. Melarang anak menangis
Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. "Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun," ungkapnya.

Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama pada balita, hanya akan menyerap kata-kata yang terdengar, dan belum bisa memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda dan kemudian menangis. Jika yang terjatuh adalah anak perempuan, orangtua biasanya akan membiarkannya untuk menangis. Tetapi ketika yang mengalami adalah anak laki-laki, orangtua pasti akan melarangnya menangis diiringi pesan, "Kamu tidak boleh menangis", "Kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng", atau "Kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya."

Sekilas, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, karena tujuannya memotivasi anak untuk tidak cengeng. Namun, ketika diserap oleh otak anak, kalimat ini akan memiliki arti yang berbeda. Kalimat tersebut akan diterima sebagai sebuah perintah, yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa. Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. "Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan seperti itu. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka," tambah Rustika. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya.

2. Perilaku orangtua tidak konsisten
Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). "Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten," tambahnya. Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan.

3. Membeda-bedakan anak
Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. "Ketika adik kakak berkelahi, biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah," bebernya. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan.

4. Labeling pada anak
Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan orangtua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Kata-kata seperti, "Dasar kamu anak pemalas", atau "Kamu kegemukan, makanya pakai baju apa saja tidak ada yang cocok", atau "Kamu kok lemot sih, nggak pinter seperti kakakmu?". Hati-hati, labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa.

5. Terlalu sering melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. "Jangan main di sana", atau "Jangan dipegang-pegang!", dan masih banyak kata larangan lain yang digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata "jangan" dan "tidak" ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun.

Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak. "Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu," ujar Rustika.

Berbagai kejadian buruk yang pernah dialami di masa kecil ternyata akan selalu terbayang sampai dewasa. Jika seorang anak memiliki ingatan yang mendalam mengenai masa kecil yang kurang menyenangkan, otak mereka akan merespons hal tersebut dan merekamnya, sehingga ketika dewasa mereka akan lebih peka terhadap stres. Ketika pernah mengalami stres, otak anak akan terprogram untuk bereaksi lebih kuat untuk menghadapi stres ini, dan hal ini akan membuat orang cenderung mengalami stres lebih besar dibanding orang yang tidak memiliki sejarah stres di masa kecilnya.

Namun jenis stres seperti apakah yang bisa membuat anak-anak menderita stres sampai dewasa? Penelitian yang dilakukan oleh Yale Stress Center menunjukkan bahwa hal yang paling mungkin menyebabkan anak-anak menjadi stres adalah pengalaman sakit, penyakit, atau cidera yang pernah dialami. Tingkat stres seorang anak bisa meningkat menjadi stres berat ketika ia mengalami berbagai konflik keluarga seperti perceraian, mengalami dan menyaksikan kekerasan, krisis keuangan, kematian orang yang dicintai, atau menghadapi orangtua yang memiliki masalah kesehatan, kecanduan, atau gangguan mental.

Kecemasan adalah reaksi normal anak-anak terhadap stres, namun beberapa anak ternyata mengalami tingkat kecemasan yang berlebihan ketika menghadapi stres. Satu dari delapan anak mengalami gangguan kecemasan berlebihan. Menurut Anxiety Disorders Association of America, anak-anak seperti ini dianggap memiliki atau pernah mengalami fase paska traumatik stres. Banyak anak pernah mengalami stres dini sebelum mereka siap secara fisik dan psikologis untuk mengatasinya. Hal ini akan membuat mereka akan lebih mudah terserang stres tingkat tinggi saat mereka tumbuh menjadi dewasa.

"'Jalur' stres akan terus berkembang selama masa kanak-kanak, namun mereka membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berfungsi secara optimal," ujar Dr Rajita Sinha, direktur Yale Stress Center.

Ketika menginjak remaja, anak-anak yang pernah mengalami stres sewaktu kecil akan cenderung mengisolasi diri, makan berlebihan, sulit tidur, sampai terlibat narkoba. Untuk menghindari hal ini, bantuan dari orangtua, guru, ataupun anggota keluarga lain, diperlukan agar tak membiarkan anak-anak berada di bawah tekanan. "Jika orangtua, guru, dan keluarga membimbing anak-anak untuk menghilangkan trauma dan stres yang mereka alami dengan mengalihkan pikiran mereka ke berbagai keterampilan adaptif, maka mereka akan lebih cenderung memiliki perlindungan dan ketahanan diri terhadap serangan stres," tukasnya.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melindungi anak-anak dari stres berkepanjangan yang berbahaya saat mereka dewasa.

1. Beri dukungan sosial. Sinha mengatakan bahwa berinteraksi dengan orang lain dan menggalang dukungan keluarga untuk anak yang stres adalah cara utama orangtua untuk melindungi anak-anak dari resiko stres.

2. Pendidikan dan tantangan intelektual. Anak-anak lebih mungkin untuk belajar mengatasi hal yang sulit ketika mereka ditantang dalam lingkungan yang "aman" seperti sekolah. Doronglah anak untuk berpikir kreatif, untuk membantu perkembangan mereka dalam jangka panjang.

3. Tingkatkan optimisme dan taktik pengendalian emosi. Orangtua dan keluarga yang terlibat aktif dalam kehidupan anak dapat membantu melindungi anak-anak dari serangan stres yang mungkin dialami. Sebuah penelitian yang dilakukan di University of Wisconsin-Madison mengungkapkan bahwa suara ibu dapat menghasilkan respons biokimia yang signifikan dan bisa meredakan stres pada anak. Cukup tidur secara konsisten juga mampu membantu anak mengatasi stres dengan lebih efektif.



Sumber: Shine

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer