Selasa, 03 April 2012

Manusia Purba spesies baru ditemukan ilmuwan

Manusia  purba jenis baru

Ilmuwan Temukan Spesies Manusia Purba Baru
 Tim ilmuwan menemukan dua nenek moyang manusia yang hidup bersama sekira jutaan tahun yang lalu. Ilmuwan menemukan fosil manusia purba tersebut di daerah Woranso-Mille, Ethiopia.
Seperti dilansir Machineslikeus, Kamis (29/3/2012), fosil yang ditemukan ini bukan merupakan anggota dari nenek moyang manusia yang terkenal, Australopithecus Afarensis atau yang biasa dikenal dengan nama Lucy. Penelitian mengungkap penemuan baru ini yang menunjuk ke lebih dari satu spesies nenek moyang manusia yang pernah hidup di awal antara 3 sampai 4 juta tahun lalu.
Beberapa fosil kaki sebelumnya pernah ditemukan pada Februari 2009 di wilayah Burtele. "Fosil kaki di wilayah Burtele menunjukkan bahwa mereka pernah hidup 3,4 juta tahun lalu, dalam kelompok spesies Lucy yang berjalan berdiri menggunakan dua kaki. Namun mereka bukanlah satu-satunya spesies purba yang hidup di wilayah Ethiopia," ujar Yohannes Haile-Selassie, penulis sekaligus pemimpin proyek dari antropologi fisik di The Cleveland Museum of Natural History.
Menurut Yohannes, penemuan fosil kaki parsial yang baru ini adalah bukti pertama untuk kehadiran setidaknya dua spesies pra-manusia dengan modus yang berbeda yang hidup di Afrika timur sekira 3,4 juta tahun lalu. "Penemuan ini cukup mengejutkan. Fosil ini menunjukkan seperti tulang kita (manusia moderen) yang belum pernah dilihat sebelumnya." pungkas Bruce Latimer dari Case Western Reserve University.
Fosil ini ditemuan di bawah lapisan pasir. Dengan menggunakan metode yang disebut argon-argon radioaktif. Salah satu tim Ilmuwan Beverly Saylor mengatakan, penemuan fosil tersebut dekat dengan fosil ikan, buaya dan kura-kura. Karakteristik fisik dan kimia dari sedimen menunjukkan lingkungan tempat hidup spesies manusia purba ini adalah dekat dengan sungai dan delta serta sebuah hutan terbuka yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar.
"Hal ini sesuai dengan fosil yang kami temukan, menunjukkan manusia purba ini tinggal di area pepohonan, sedangkan spesies Lucy tinggal di darat," tambahnya. Hasil analisis mengenai penemuan fosil ini diterbitkan di jurnal Nature pada 29 Maret 2012.

Fosil Hujan Ungkap Atmosfer Purba Bumi


Fosil Hujan Ungkap Atmosfer Purba Bumi
DURBAN - Bukan hanya tulang belulang saja yang bisa menjadi fosil. Baru-baru ini, para ilmuwan telah meneliti sebuah jejak hujan yang menjadi fosil.
Diwartakan Live Science, Kamis (29/3/2012), hujan itu terjadi sekira 2,7 miliar tahun yang lalu dan tercetak pada batu purba di Afrika Selatan. Jejak hujan purba tersebut memberi petunjuk tentang kondisi awal atmosfer Bumi.
Pada masa purba itu, Matahari bersinar 30 persen lebih redup. Suasana jauh lebih dingin ketimbang sekarang, dan mengindikasikan bahwa Bumi dalam keadaan membeku.
Para ilmuwan juga mengatakan bahwa atmosfer lebih tebal dan memiliki konsentrasi gas rumah kaca yang tinggi. Atmosfer purba penuh dengan gas rumah kaca untuk membantu menghangatkan Bumi.
"Karena Matahari saat itu jauh lebih redup, Bumi akan membeku jika memiliki kondisi atmosfer yang sama dengan saat ini," terang Sanjoy Som, peneliti di NASA Ames Research Center.
Selain itu, penelitian juga membandingkan kecepatan jatuh hujan purba dengan hujan di masa kini. Pada masa kini, butiran hujan bisa berukuran sekira seperempat inci. Kecepatan jatuhnya sekira sembilan meter per detik.
Atmosfer yang lebih tebal di zaman purba menimbulkan hambatan yang lebih besar pada hujan. Kecepatan jatuhnya jadi lebih lambat. Hal ini berarti ukuran butiran hujna serupa dengan yang i masa sekarang, akan membentuk jejak yang lebih kecil.
Berdasarkan ukuran jejak tersebut, para peneliti bisa mengatakan bahwa atmosfer yang menciptakan hujan purba, tidak sampai dua kali lipat lebih tebal ketimbang di masa sekarang.
sumber :  CLEVELAND

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer