Minggu, 01 April 2012

masa puberitas di sekolah 1

Ketika saya masih SMA dulu boleh dikatakan termasuk salah satu pelajar yang banyak digandrungi oleh cewek. Muka ganteng dengan dagu terbelah dan badan yang tegap. Terus terang saja saya juga sering melakukan hubungan seks dengan beberapa teman ceweq di sekolah ku itu yang memang menganut freesex. Meskipun demikian saya masih memilih yang benar-benar sesuai dengan selera saya. Tidak heran kalau setiap akhir minggu ada saja telepon berdering mengajak nonton atau pesta yang kemudian berakhir dengan hubungan intim.
Saat itu saya juga mempunyai pacar dia adalah adik kelas, Nama nya Lusi, Lusi adalah gadis yang cantik dan sexy menurut saya, Wajahnya manis, lugu, ditambah lagi dengan kulitnya yang putih mulus. Tubuhnya gadis 17 tahun yang berdarah Belanda ini sangat proposional, pinggangnya ramping, rambutnya panjang, tingginya sekitar 150 cm, tetapi sintal. Pantatnya dan payudaranya besar kira-kira payudaranya berukuran 36C.
Perkenalan kami di mulai dengan makan di kantin sekolah… Waktu itu saya makan di kantin dan saya di tegur oleh adik kelas saya. Saya tidak kenal dia, soal nya saya belom kenal sama sekali dengan Lusi waktu itu, tapi Lusi sudah kenal saya…? Soal nya saya waktu itu salah satu anak yang paling bandel dan nakal di SMA itu, makanya banyak yang kenal saya tapi saya gak kenal hahahahaha… biar nakal, saya selalu masuk ranking 3 besar loh…, panggilan Lusi waktu itu saya jawab “ada apa?” dia waktu itu panggil aku dengan kakak,
“Boleh saya duduk dengan kakak?” balasnya
“Boleh sini” jawab saya dan kami pun makan bersama.
Setelah kejadian itu kami pun agak akrab, tapi saya belom kepikiran suka apa tidak suka dengan Lusi. Banyak dari teman teman dari kelas dua yang suka sama Lusi, tapi semuanya di tolak oleh nya…
Pada suatu siang, tanggal, hari dan tahun nya saya lupa… seingat saya waktu itu pulang sekolah, saya di kenal kan dengan temen nya Lusi nama nya, Vinna, Poppy dan Ratna
Ratna berusia 17 tahun Badannya tinggi (hampir setinggi saya. Kalo pake hak tinggi pasti saya kalah tinggi). Bodinya sexy sekali dan yang paling bikin saya gemes adalah payudaranya yang gede banget. Kira-kira 36 B ukuran bra nya dan kulitnya yang putih sehingga kalo rambut panjangnya di gelung ke atas (warnanya asli merah), akan menampakkan tengkuknya yang jenjang, bikin saya ingin mengelus dan mencium tengkuknya itu.
Vinna berusia 16 tahun, rambutnya lurus panjang sebahu, kulitnya putih mulus, yang saya tahu dari teman-teman dia itu masih ada darah Manado. Beratnya kira-kira 50 kg. Tubuhnya cukup tinggi untuk gadis seusianya 172 cm. Cocok denganku yang memiliki tinggi 183 cm. Rambutnya panjang, hitam, mengkilat. Kulitnya putih, lembut walaupun ia menyukai olah raga. Dadanya cukup besar. Kira-kira 34C
Sedangkan Poppy berusia 18 tahun orangnya imut, kulit nya lebih hitam di banding yang lain (apa karena keturunan arab kali ya) tapi manis. Rambutnya panjang, hidungnya mungil dan mancung, bibirnya tipis, payudara Poppy kira-kira berukuran 32b (memang serasi untuk ukuran tubuh Poppy yang bertinggi 165 cm, jadi terlihat sexy).
Sejak perkenalan pertama dengan Ratna, Vinna dan Poppy, saya malah sering pergi jalan-jalan dengan mereka bertiga ketimbang dengan Lusi.
Karena Lusi termasuk anak yang gak suka ngelayap kalau gak ada perlunya, salah satu sifatnya inilah yang bikin syaa suka sama dia.
Kalau gak salah hari Sabtu, 1 minggu setelah perkenalan saya dengan Ratna, sewaktu masuk masuk kelas, saya lihat ada secarik kertas yang isinya ternyata dari Lusi yang menyatakan Lusi ingin ketemu dengan saya di kantin, saya pun menemuinya sewaktu bel istirahat pertama di kantin.
Sesampainya di Kantin saya menemui Lusi sedang duduk sendirian di meja paling pojok, saya mendekati nya dan menegurnya
“Lusi ada apa?”
“Lusi ingin bicara sama Anton” jawabnya.
“Soal apa sih?” tanyaku, dengan wajah yang tertunduk, dia menjawab
“Soal Ratna…”
“Ada apa dengan Ratna?”, balasku
“Kemarin sewaktu Ratna main ke rumah saya, dia cerita kalau dia sayang kamu dan cinta kamu”, saya pun kaget mendengar kata-kata Lusi… betapa tidak kaget, karena selama ini saya sayang dan cinta hanya sama Lusi. Dan saat itu juga saya berterus terang kalo saya sayang dan cinta sama Lusi, bukan sama Ratna temannya itu, setelah mendengar kata-kata saya. Lusi malah terbenggong dan diam tanpa kata sepatah pun, saya tunggu jawabannya tapi sepertinya gak akan ada, saya pun langsung bangkit dan kembali ke kelas dengan hati yang penasaran.
Keesokan harinya sesampainya di sekolah, waktu itu kalau gak salah masih jam 6:30 pagi dan saya waktu itu sedang duduk di pinggir lapangan basket. Ratna mendekatin saya dan duduk disebelah saya, dia bilang kalau Lusi juga sayang juga sama saya, saya pun kaget mendengarnya, tapi terus terang terasa pagi itu merupakan pagi yang paling indah sepanjang hidup ini. Dan sejak itu Lusi resmi menjadian pacar saya, pulang sekolah selalu sama-sama dan makan di kantin pun selalu sama-sama.
Awalnya, kami berdua pacaran seperti biasanya. Karena aku jauh lebih dewasa dari Lusi, jadi aku lebih banyak mengajari dan melindungi Lusi. Sampai-sampai waktu pertama kali aku cium bibirnya, dia masih lugu. Hal ini terjadi pada saat kami pacaran di belakang rumahnya yang mempunyai halaman serta kebun yang lumayan luas. Malam Minggu, kami duduk berdampingan di kursi, kulingkarkan tangan kiriku kepundaknya, dia merebahkan kepalanya ke dadaku. Kuraba dengan lembut pipinya dan berkata, “Lusi…”
“Apa honey?” jawabnya perlahan.
“Malam ini kamu sangat cantik dan saya kangen sama kamu…” aku berkata lagi. Kepalanya diangkat dari pundakku sambil memandangku dengan matanya yang bulat dan berbinar-binar sayu. Tanpa kusadari, wajah kami saling mendekat dan terasa nafas kami yang agak memburu. Kusentuh pipinya dengan kedua telapak tanganku. Kukecup keningnya dan reaksinya, dia diam dan waktu kulihat matanya tertutup.
“Lus, saya sayang kamu…” bisikku di depan bibirnya.
“Iya honey?” berbisik jawabnya lagi.
“Saya ingin mencium bibirmu.. boleh ya…?” suaraku kubuat selembut mungkin dan seyakin mungkin, karena dia tidak bereaksi seperti anak gadis lainnya kalau kucium keningnya biasanya langsung menyediakan bibir mereka. Lusi mengangguk pelan dan memejamkan matanya, menunggu dengan lembut kukecup bibirnya yang sensual itu, reaksinya sesaat diam.
Setelah beberapa saat, tangannya melingkar di leherku dan kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Kemudian tanpa melepaskan bibirku di bibirnya, dengan perlahan kuangkat tubuhnya sehingga dia berada di pangkuanku. Bibirnya yang lembut kukulum dengan erat. Saat kupermainkan, lidahku masuk ke dalam mulutnya, dia terkejut dan melepaskan bibirnya sambil berkata pelan.
“Kalau ciuman memangnya mulutnya di buka dan lidahnya di julurkan ya honey…???”
“Iya dong say, coba kamu buka dan julurkan lidah kamu, sekarang, boleh aku cium kamu lagi?” tanyaku dengan lembut. Lusi hanya mengangguk dan langsung kukecup lagi bibirnya sambil mempermainkan lidahku dan ternyata reaksinya lidahnya ikut main dengan lidahku dan sementara tanganku mulai meraba-raba punggungnya dengan lembut, membuat nafasnya Lusi memburu ditengah-tengah kecupan dan pagutan bibir kami berdua.
Sementara itu, tanganku mulai turun ke arah susunya. Dia tidak bereaksi terhadap tanganku yang sudah mengusap susunya yang ternyata, montok dan memang benar-benar besar dan kenyal. Maklum umurnya masih 17 tahun. Nafasnya makin memburu tatkala kecupanku turun ke lehernya dan kugigit-gigit kecil. Rintihan halus mulai keluar juga saat tanganku masuk ke dalam bajunya setelah kancingnya berhasil kulepaskan satu persatu tanpa disadarinya. Tanganku terus meraba susunya yang masih terbungkus BH. Yang kurasakan hanya setengah menutupi susunya yang besar dan montok serta lembut itu, atau memang BH-nya terlalu kecil untuk menampung bukit indahnya Lusi yang montok. Bibirku terus mengecup turun dari leher ke susunya sementara tanganku bergerilya ke punggungnya yang akhirnya berhasil melepaskan kaitan BH-nya. Kurasakan Lusi tersentak pada saat aku berhasil melepaskan BH-nya.
“Honey… jangaaan..” rintihnya terengah-engah sambil menunduk melihat ke arah mukaku yang hampir terbenam di antara kedua susunya yang besar dan montok itu. Aku melepaskan kecupanku di pangkal susunya sambil melihat ke arahnya dengan lembut tetapi masih penuh nafsu. Sambil tersenyum lembut,
“Kenapa sayang.. kamu takut yaa..?” tanyaku hati-hati.
“Iya…” jawabnya dengan suara bergetar akan tetapi kedua tangan masih tetap memeluk leherku dengan kencang.
“Jangan takut sayang, saya tahu kamu belum pernah seperti ini, rasakan dan nikmati saja pelan-pelan.” jawabku lagi sambil tanganku tetap membelai susunya yang putih disertai puting kecilnya yang berwarna merah muda.
Rupanya dengan gerakan Lusi tersentak itu, BH yang dipakainya terlepas dari susunya yang montok. Kukecup lagi bibirnya dengan lembut. Sejenak kusadari bahwa ini adalah hal yang pertama kali Lusi alami bersama lelaki dewasa seperti aku jadi aku berniat untuk petting dulu sama dia agar tidak kaget dan terlalu memaksa. Aku takut akibatnya dapat merugikanku sendiri untuk menikmati tubuh perempuan berdarah Belanda ini. Demikianlah kejadian demi kejadian yang aku dan Lusi lakukan, yaitu petting atau French kissing sejak kami pacaran yang kuajari dia, baik di rumahnya maupun di rumahku dan dengan pasti kami lakukan pada saat rumah kami berdua dalam keadaan yang memungkinkan.
Sampai satu hari Minggu, aku bisa mengajaknya keluar dari pagi jam 08:00 sampai jam 17:00, atas izin orang tuanya. Kami berdua naik motor HarleyDavidsonku berputar-putar keliling Jakarta. Kami makan mie ayam Gajah Mada dan berakhir di rumahku yang kebetulan lagi sepi. Orang tuaku sedang mengunjungi famili di America, kedua kakakku sibuk dengan urusannya masing-masing dan tinggalah pembantuku bik Inem di kamar belakang. Lusi langsung kuajak ke kamarku, terpisah dari ruang utama cukup jauh.
Mungkin karena rasa kangen yang meluap-luap, begitu masuk ke kamarku, Lusi memelukku dengan erat dan sepertinya kurasakan dia agak buas. Menciumiku dengan cara menarikku dengan kasar, sehingga kami terjatuh di atas tempat tidurku dengan posisi dia berada di atasku. Padahal, biasanya kalau kami berdua ada kesempatan, ciuman sambil pegang-pegang, seingatku aku selalu ambil peranan dan dengan lembut serta very enjoyable bagiku dan Lusi sendiri yang kulihat dia sangat menikmati permainan petting dariku. Tetapi hari ini aku hampir kewalahan menghadapi ciumannya yang bertubi-tubi dan kurasakan ciuman wanita yang lagi berahi tinggi. Menyadari hal tersebut, aku akhirnya mulai memberikan respon yang tinggi juga. Dengan segera aku membalikkan badanku, sehingga posisiku berada di atasnya serta kubalas kecupannya dengan gairah tetap i juga dengan lembut serta gigitan-gigitan kecil di bibirnya, serta permainan lidah pada saat mengulum bibirnya yang sensual itu.
Sementara tanganku bergerak membuka baju casualnya, seperti biasanya Lusi sudah tahu kalau kami mau petting, dia selalu pakai baju casual dengan kancing di depan. Desahan-desahan kecilnya mulai terdengar bersamaan dengan kecupan dan gigitan kecilku yang turun ke arah susunya yang besar dan montok itu sampai aku berhasil menjilati puting susunya yang berwarna merah muda bergantian, kiri dan kanan. Desahannya makin menjadi-jadi sewaktu aku menghisap putingnya yang kecil dan mulai keras disertai gigitan-gigitan kecil yang menggemaskan dan menikmatkan dia.
“Aduuuuh… hooneeeyyy…!” erangannya sambil mencengkramkan tangannya di kepalaku. Sementara itu, penisku mulai berontak di balik jeans dan CD-ku. Cepat-cepat aku membuka ruistzleting jeansku agar Mr. P agak leluasa untuk diperbaiki letaknya.
Kulepaskan kecupanku dari susunya Lusi yang besar dan aku memandangnya dengan penuh kasih dan lembut, kukecup bibirnya Lusi.
“Lusi sayang, aku ingin membuat kamu jadi milikku seutuhnya, kamu mau kan sayang…?”
“Honey, aku mau…” jawabnya mesra dan nafasnya mulai memburu.
“Sayang… aku akan membuat kamu untuk tidak melupakan hubungan kita dan aku mau kamu menjadi wanita pertama yang merasakan kenikmatan dari ku, mau kan?” kataku lagi dengan lembut setengah bebisik, dia mengangguk manja.
Sambil berbaring side by side, kukecup bibirnya yang sensual sambil kubuka habis bajunya. Tanganku yang cukup berpengalaman melepas BH-nya yang berwarna pink, hal ini membuat Mr. P ku tegang. Akhirnya terlihat dua bukit susunya yang besar dan halus,
“Wwoooww… kok anak SMA klas1 bisa punya seperti ini?” dalam hatiku, putih ,besar, montok dan kenyal dengan putingnya yang kecil berwarna merah muda. Sejenak aku memandanginya sambil perlahan-lahan tanganku menjamah, membelai serta mengusap-usap putting yang menggemaskanku.
Lusi tersadar saat aku masih memandang ke arah susunya dan tiba-tiba dia mengeluh sambil menyusupkan kepalanya di dadaku yang juga sudah telanjang.
“Honey.. jangan diliatin terus dong.. Lusi kan malu!” katanya perlahan dengan nada manja. Aku tertawa perlahan sambil memeluknya dengan mesra.
“Malu sama siapa sayang? Sama aku? Iya? Kan yang ngeliatin juga cuma satu orang kan..?” jawabku tersenyum geli melihat kelakuannya ini.
“Tapi Lusi kan tetap aja malu.. soalnya kamu orang laki-laki yang pertama yang lihat Lusi ngga pakai BH.” katanya lagi. Kukecup lagi keningnya, terus turun ke matanya yang indah, hidungnya yang bangir, terus turun ke sudut bibirnya yang sensual, merah merekah disertai desahan-desahan kecilnya terdengar olehku. Di sana aku mempermainkan lidahku serta kugigit lembut. Dia menggelinjang dan dengan tidak sabar dia mengecup bibirku dengan buas, sementara tangannya mulai mengusap kepalaku, aku pun tidak tinggal diam. Dengan segera tanganku turun ke susunya yang menjadi kegemaranku bermain, kuraba dan kuputar-putar putingnya yang mungil. Dia mengerang nikmat.
Tanganku terus turun. Kusibak rok mini nya, terus ke arah belakang tempat resletingnya, langsung kubuka perlahan-lahan. Dia diam saja dan aku merasakan bahwa dia sudah pasrah dengan apa yang akan kulakukan. Kutarik roknya ke bawah dan dia membantu untuk melepaskannya.
“Honey… peluk Lusi dong…” tiba-tiba katanya dengan sendu membuyarkan lamunanku. Kembali aku memeluknya dengan lembut dan aku merasa penisku melakukan pemberontakan yang gila. Sambil mencium bibirnya, lehernya terus turun ke susunya serta putingnya yang menggairahkan, aku melepaskan jeansku. Kukecup kedua puting merah muda itu berulang-ulang dengan lembut sampai basah oleh air liurku. Kuturunkan kecupanku ke arah pusarnya, dia bergerak sambil terus menjambak rambutku sambil mendesah disertai erangan-erangan nikmatnya yang halus.
Sampai akhirnya bibirku berada di atas vaginanya yang sudah basah tertutup oleh CDnya.
“Sayang.. CD kamu saya buka ya?“ kataku sambil mulai membuka CD-nya lepas dari tubuhnya. Lusi hanya menganggukkan kepalanya dengan rintihan kenikmatan yang kuyakin belum pernah dirasakannya seumur hidup. Dihadapanku terlihat anak gadis, perawan, telanjang dengan lubang kewanitaan ditumbuhi bulu-bulu halus yang teratur rapi nan cantik. Vagina anak perawan yang belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun. Kukecup bibir atas benda indah itu yang dengan serta merta mengeluarkan aroma yang khas. Aku merasakan gerak gelinjang Lusi serta keluhan panjang.
“Ooohhh… Honneeeyyy…!” Kuyakin Lusi sudah kehilangan kata-kata untuk menyatakan kenikmatan yang belum pernah dia alami, karena umurnya baru 17 tahun. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan nafsuku serta pemberontakan Mr. P di balik CD-ku, aku ingin memberikan kepuasan kepada Lusi semaksimal mungkin, sehingga dia akan menyerah dengan apa yang akan kulakukan demi kepuasan bersama. Kujilat belahan vaginanya sambil perlahan-lahan kubuka pahanya yang sebelumnya Lusi jepitkan untuk menahan gejolak kenikmatan pada saat aku pertama kali mengecup pucuknya. Pahanya yang putih mulus itu terbuka sedikit demi sedikit sambil lidahku bermain dengan lembut. Klitorisnya yang mungil tampak merekah merah muda. Aku tidak tahan. Kukecup dan kugigit-gigit kecil. Hal ini membuat Lusi menggoyangkan pantatnya yang padat, kenyal serta mulu s itu dengan gila. Kedua tangannya mencekal rambutku dan menekankan ke arah vaginanya sambil berteriak kecil menahan. Basah sudah bibirku, hidungku, lidahku dengan cairan putih bening yang keluar terasa agak asin namun harum dengan aroma yang khas dari vaginanya. Cengkraman serta jepitan di kepalaku mengendur, dia telah mencapai orgasme. Kujilat dan kutelan habis cairan itu di sekitar vagina indahnya dengan nafsu yang memuncak
“Honey.. sini dong, peluk Lusi…” rintihnya sendu. Aku tersadar dengan kejadian yang baru saja kulakukan. Gila.. aku baru saja menelan cairan orgasme anak perawan. Aku bangun dan memeluk Lusi dengan lembut dan mesra, dia kaget melihat mulut dan hidungku masih tercecer cairan putih bening. Tiba-tiba, “Cup.. cup.. cup..” dikecupnya bibirku, hidungku, daguku sambil menjilati sisa-sisa cairan putih bening yang masih ada di wajahku dengan liar. Dia terus memandangku dengan matanya yang indah berbinar itu. Posisi kami rebah berhadapan berdampingan, dia berada di sebelah kiriku dan aku berada di sebaliknya. Tanganku menyentuh dan mengusap susunya yang putih, montok dihiasi putting kecil merah muda.
“Honey…” desahnya lembut.
“Apa sayang..?” jawabku berbisik.
“Kamu sayang sama Lusikan…?” katanya lagi sambil memandang serta membelai pipiku, menyentuh bibirku dengan jarinya.
“Iyaaa… ada apa sayang… kok nanyanya begitu…?” balasku lembut. Jariku tetap nakal bermain-main di puting susunya yang menggairahkan.
“Honey… soalnya Lusi belum pernah begini..” katanya lagi sambil melirik ke arah mataku. Usapan tangannya tidak berhenti di antara pipi dan bibirku. Aku balas memandangnya sambil tersenyum.
” Jangan diliatin begitu dong… Lusi kan maluuuu…” katanya sambil merajuk menyusupkan wajahnya di leherku, kakinya yang indah dibelitkan ke pinggangku seperti memeluk guling. Tiba-tiba dia tersentak saat perutnya menyentuh perutku yang mau tidak mau, vaginanya menyentuh sesuatu yang tegang di balik CD-ku yang sudah basah. Secara refleks Lusi mencoba meregangkan tubuhnya, tetapi dengan sigap kutahan dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya sambil berbisik,
“Jangan dilepas sayang.. biarkan nempel.. aku ingin kamu merasakan milik laki-laki yang menyayangimu, menyentuh kulitmu.” kataku dengan nada pasti. Dia terhenyak dan tegang sesaat, dengan sabar dan lembut aku cium kening dan bibirnya dan aku berkata sambil melepaskan CD-ku perlahan-lahan,
“Kamu belum pernah melihat yang namanya penis laki-laki dewasa dalam keadaan tegang kan? Kamu mau lihat?” tanyaku sambil menatap pasti ke arah matanya yang indah itu. Sepertinya dia bingung sesaat dan aku tetap memandangnya dengan tatapan mata yang menusuk serta meyakinkan.
Akhirnya dengan sikap pasrah dia mengangguk pelan. Kami melepas pelukan dan dengan perlahan-lahan, Lusi menundukkan kepalanya melihat ke arah pangkal pahaku.
“Ooohhh…” teriaknya kecil dan kaget serta merta memeluk leherku menyembunyikan mukanya. Aku rasanya ingin tertawa melihat sikapnya yang lugu itu, maklum saja anak perawan melihat pertama kali Mr. P laki-laki dewasa lagi tegang.
“Kenapa sayang..? Lihat indah kan?” kataku menggoda.
“Ngga mauuu.. Lusi maluuuuu…!” jawabnya tanpa melepaskan wajahnya di leherku dengan nafas yang agak memburu dan tangannya memeluk leherku. Dengan sigap aku peluk dia di pinggangnya yang berakibat Mr. P ku yang masih tegang itu menempel di antara vaginanya yang lembut. Dia kaget dan berusaha melepaskan tetapi kutahan pinggangnya, nafasnya makin terengah-engah. Terasa ada cairan hangat mengalir menyentuh Mr. P ku perlahan-lahan dan ketegangan tubuh dia mulai agak mengendur.
“Honey.. Lusi.. aaahhhh geeellliii…” desahnya terengah-engah. Pelukanku di pinggangnya kukendurkan sambil menatap matanya yang agak redup sambil berbisik,
“Sayang.. ini bagian dari perasaan cinta dan kasih sayang, say.. ayo lihat..” Aku mengambil tangan kirinya dan kuarahkan ke Mr. P ku yang tegang, dia mengikuti gerakan tanganku sambil pelan-pelan menundukkan kepalanya ke arah Mr. P ku, kuusapkan tangannya ke Mr. P ku sambil menggenggam dengan lembut. Aku rasakan nafasnya memburu dan aku mulai merasakan sentuhan lembut itu dengan nikmat. “Gile.. coy..! Mr. P ku dipegang oleh anak perawan yang cantikkk..!” pekikku dalam hati. Kuajari Lusi sambil menggengam si Mr. P untuk mengurut dengan lembut, tanganku kemudian melepaskan tangannya yang halus, terus mengurut Mr. P ku secara berirama. Sementara tanganku sendiri menyentuh vaginanya yang lembut dan mulai mengelus bibir hangat tersebut dengan penuh rasa cinta. Beberapa saat kemudian dia berteriak kecil,
“Hooonnneeeyyy.. ooohhh… ssshhhttt…” dia bergerak dan tangannya yang masih memegang Mr. P ku disentuhkan ke vaginanya. Tiba-tiba dia memelukku sambil melingkarkan pahanya yang putih dan mulus itu serta menekankan vaginanya dengan Mr. P ku. Tanganku terpaksa kulepas dari bibir vagina cantik itu, tangannya memeluk badanku, kemudian bibirnya dengan buas mengecup bibirku sambil mengerang karena nikmat. Terasa basah Mr. P ku yang masih menempel di bibir hangatnya Lusi, orgasmenya yang kedua. Wooow.. seprei tempat tidurku sudah tidak karuan lagi bentuknya serta basah pada bagian di mana kemaluan kami berdua saling menempel. Aku mulai tidak tahan dengan keadaan seperti itu, Mr. P ku makin keras dan tegak sementara agak terjepit di antara bibir vagina lembut miliknya. Yang agak mengherankan adalah, aku masih bisa menahan dir i untuk tidak mulai melakukan penetrasi karena sadar bahwa anak ini masih perawan, meskipun keadaannya tinggal tancap, beres kan?
Pikiran sehat muncul sejenak.
“Kalau elu perawanin, gawat nich ceritanya coy… !?” dalam hatiku bergejolak. Aku yakin bahwa aku harus mengakhiri kenikmatan ini dengan kondisi baik. Aku dan Lusi harus benar-benar puas. Kubalas kecupan-kecupan ganasnya Lusi di bibirnya, lehernya, susunya dan berhenti serta bermain-main agak lama di kedua susunya yang menggairakan serta putingnya yang kecil merah muda itu. Tanganku bergerilya ke arah vaginanya yang lembut berwarna merah muda pada kedua labia mayora-nya.
Pahanya yang putih mulus masih melingkar di pinggangku, sehingga jari tengahku bebas berkeliaran mengusap-usap vaginanya yang sudah amat basah dengan cairan putih bening yang keluar terakhir. Desahan, erangan serta teriakan-teriakan kecil terus meluncur dari bibir yang sensual di depan wajahku. Sekali-kali dia mengecup dan juga menggigit bibirku dengan ganas selama jariku mempermainkan labia mayora serta clitorisnya yang agak keras. Kugeser tubuh putih mulus itu perlahan-lahan, sehingga Lusi telentang dan posisiku berada di atasnya.
“Lusi sayang, saya ingin kamu merasakan kenikmatan orang bercinta.. kamu mau kan..?” aku berkata sambil menatap wajahnya yang terlihat pasrah dan bertambah cantik dengan sebagian keringat menitik di dahinya.
“Honey… semuanya saya berikan untuk kamu?” jawabnya lembut setengah tersenyum juga dengan nafas mulai memburu.
“Sayang kamu sebentar lagi akan merasakan gimana yang namanya Make-Love?” kataku dengan lembut dan pasti sambil mengecup bibirnya yang menggemaskan. Dia mengangguk pelan tetapi kuyakin pasti dia ingin merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya.
Dengan sabar dan lembut tanpa melepaskan pandangan mataku ke arah matanya yang mulai setengah terpejam, kurenggangkan pahanya, kuarahkan Mr. P ku yang sudah tegang dari tadi ke atas vaginanya yang kuraba dengan jari tengahku. Sudah merekah terbuka, lembut, perlahan kuusap-usapkan ujung Mr. P ku ke vagina Lusi sambil kukecup bibirnya, susunya, putingnya. Kujilat mesra tangan kirinya dengan segera memegang dia meremas kepalaku dan tangan kanannya membelai punggungku dengan mesra seolah-olah mulai merasakan kenikmatan lidahku bermain pada putting susunya yang kecil mungil kemerah-merahan serta usapan-usapan Mr. P ku pada vaginanya. Perlahan-lahan kudorong Mr. P ku memasuki kira-kira setengahnya ke liang vaginanya.
“Hooonnneeeyyy… pelan-pelan… peerrriiiihhh…” jerit kecilnya. Aku agak kaget dan langsung berhenti bergerak karena meskipun aku sudah tidak tahan ingin penetrasi penuh tetapi aku masih sadar bahwa ini adalah ML dengan Lusi yang anak perawan 17 tahun berdarah Belanda yang amat kusayangi, jadi aku harus sabar dan penuh rasa kasih serta cinta yang lembut.
“Maaf sayang.. sedikit lagi.. saya pelan-pelan.. atau dicabut aja..?” kataku tanpa sadar.
“Jangan… pelan-pelan aja…” jawabnya lirih. Aku merasa tidak tahan, antara mau terus dan takut dia kesakitan. “Gila lu Ton, ini anak masih perawan!” kata hatiku kembali berkata. Tetapi karena sudah tanggung, Mr. P ku sudah masuk setengah kuteruskan amat perlahan. Penetrasi yang berakhir dengan keluhan Lusi yang terdengar lirih,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer