Rabu, 25 April 2012

Perpecahan di internal keluarga Kadipaten Pura Pakualaman

Muncul Paku Alam IX Tandingan


Paku Alam IX
Ambarkusumo Vs. Anglingkusumo


==================================================
==================================================

Muncul Paku Alam IX Tandingan di Kadipaten Pakualaman
Aloysius Budi Kurniawan | Agus Mulyadi | Minggu, 15 April 2012 | 14:43 WIB

Kompas/ ABK
Paku Alam IX Tandingan di Kadipaten Pakualaman.


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat Adikarto Kulonprogo bersama masyarakat hukum adat Sabang-Marauke mengukuhkan Kanjeng Pangeran Haryo Anglingkusumo sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam IX, Minggu (15/4/2012) di Pendopo Glagah, Kulon Progo.

-Pengukuhan disaksikan sekitar 400 masyarakat Adikarto atau warga pesisir selatan Kulon Progo dan 15 perwakilan Masyarakat Hukum Adat Sabang-Merauke.

Pengukuhan ini dilakukan dengan sederhana tanpa ritual agung selayaknya raja Kadipaten Pakualaman seperti biasanya. Sebagai tanda dukungan, Anglingkusumo mendapat pengalungan rangkaian melati dari perwakilan-perwakilan Masyarakat Hukum Adat Sabang-Merauke.

Mereka kemudian menandatangani kesepakatan dukungan terhadap Anglingkusumo. Dukungan ini nantinya ditetapkan di depan notaris agar memiliki landasan hukum.

"Saya sendiri terkejut dengan keinginan Masyarakat Hukum Adat dan warga Adikarto. Selama 12 tahun terakhir, di Pakualaman memang terjadi perpecahan di antara ahli waris Sri Paduka Paku Alam VIII," ungkap Anglingkusumo.

Dengan adanya pengukuhan Angklingkusumo sebagai Paku Alam IX baru, maka saat ini ada dua Paku Alam di Kadipaten Pakualaman. Sebab, sebelumnya KPH Ambarkusumo juga telah dikukuhkan sebagai Paku Alam IX dan kini menjabat sebagai wakil gubernur DIY.

Sumber: http://www.solopos.com/2012/berita-p...yarakat-178483

==================================================
==================================================

PAKU ALAM KEMBAR: "Pengukuhan Murni Inisiatif Masyarakat"
Minggu, 15/4/2012 | Abdul Hamied Razak/JIBI/Harian Jogja


DIKUKUHKAN—Pengukuhan KPH Anglingkusumo sebagai KGPAA Paku Alam IX di Kulonprogo, Minggu (15/4) (JIBI/Harian Jogja/Abdul Hamied Razak)

KULONPROGO—Perpecahan di internal keluarga Kadipaten Pura Pakualaman yang telah berlangsung selama 12 tahun, semakin meruncing. Hari ini, Minggu (15/4), ratusan masyarakat Adikarta Kulonprogo mengukuhkan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Anglingkusumo sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam IX.

Padahal saat ini, kekuasaan resmi Pura Pakualaman telah dipegang oleh KGPAA Paku Alam IX, atau KPH Ambarkusumo, yang tak lain saudara tiri KPH Anglingkusumo.

Pengukuhan KPH Anglingkusumo sebagai KGPAA Paku Alam IX berlangsung di tengah-tengah penyelenggaraan acara ritual budaya Sedekah Bumi di Pendapa Pantai Glagah, Kecamatan Temon. Ritual budaya yang dilakukan untuk memperingati dua abad Kadipaten Pakualaman dan hari lahir 102 tahun KGPAA Paku Alam VIII Al Haj itu juga dilakukan bersamaan dengan pengukuhan kerabat Pura Pakualaman.

Ketua Masyarakat Hukum Adat Sabang Merauke, Angga Pratama Hardiyansyah Putra mengatakan, pelaksanaan sedekah bumi tersebut dilakukan dalam rangka doa bersama agar hasil panen para petani dan nelayan di bumi Adikarta Kulonprogo semakin baik.

Menurutnya, berdasarkan sejarah, hasil pertanian di wilayah Kadipaten Pakualaman dapat melimpah dan penuh berkah. Dia menjelaskan, penandatanganan kesepakatan tersebut nantinya akan dilegalkan secara hukum melalui notaris.

"Ini murni inisiatif masyarakat untuk melaksanakan jumenengan dan mengukuhkan KPH Anglingkusumo sebagai Paku Alam IX. Penandatanganan yang sudah dilakukan ini akan dilegalkan melalui notaris. Artinya, [penandatanganan] ini akan menjadi legitimasi dari masyarakat," ungkap dia.

Dijelaskannya, alasan yang menjadi landasan terhadap dukungan tersebut karena selama ini, KPH Anglingkusumo dianggap telah mendampingi masyarakat dalam menolak penambangan pasir besi. (ali)

Sumber: http://www.solopos.com/2012/berita-p...yarakat-178483

==================================================
==================================================

Sultan HB X Sesalkan Konflik Pakualaman
Jumat, 20 April 2012, 16:46 WIB



REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan ia tak mengerti kenapa permasalahan di Puro Pakualaman ini baru muncul sekarang, setelah Paku Alam IX (KPH Ambarkusomo) naik tahta.

''Saya cuma berpikir, kenapa tidak dari dulu tetapi setelah 12 tahun. Mungkin jika ini muncul dan dilakukan sejak dulu tidak akan muncul wacana seperti ini. Apalagi Anglingkusumo merupakan orang yang pro terhadap pemilihan,'' kata Sultan.

''Bagaimanapun mas Angling kan pro pemilihan. Muncul setelah pilwalkot. Itu kan pertanyaan perkara dijawab atau tidak ya sudah,'' tambahnya.

Anglingkusumo yang didaulat menjadi Paku Alam IX juga menepis jika pengukuhan ini ada kaitan dengan RUUK dan pilwalkot.

Menurut Angling, ia sendiri sebelumnya tidak pernah menyangka akan dikukuhkan mejadi Pakulaman oleh Masyarakat Adikarto dan masyarakat Hukum Adat Sabang-merauke.

Saat itu, kata Angling, ia hanya datang diundang menghadiri tradisi sedekah bumi. Mengenai permasalahan internal di Pura Paku Alam, kata Angling, ia sudah 12 tahun ini memilih diam dan berusaha melakukan rekonsiliasi. Namun, tambahnya, selanjutnya malah datang ''mukjizat'' dimana masyarakat Adikarto sendiri mengukuhkannya saat sedekah bumi itu.

Redaktur: Hafidz Muftisany
Reporter: Yoebal Rasyid

Sumber: http://www.republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer