Rabu, 02 Mei 2012

Permainan anak Indonesia yang hmpir punah



Ketika Anda masih kecil, teknologi tentu belum secanggih sekarang, termasuk permainan canggih seperti PlayStation atau online game lainnya. Saat itu, anak-anak kecil menghabiskan waktu dengan bermain bola di lapangan, menerbangkan layang-layang, atau dengan permainan tradisional lain bersama teman-teman sebayanya. Anda masih ingat permainan-permainan khas anak Indonesia ini? Kira-kira, sampai sekarang apa masih ada anak-anak yang bermain permainan ini dibandingkan duduk di depan layar komputer atau televisi?
1. Permainan Engklek

Mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Jenis permainan tradisional ini dilakukan di pelataran dengan mengambar kotak-kotak kemudian melompat-lompat dari kotak satu ke kotak selanjutnya. Ada beberapa istilah lain untuk permainan ini, ada yang menyebut permainan ini dengan Teklek ada juga yang menyebutkan dengan ciplek gunung. Istilah untuk penyebutan nama permainan ini memang beragam tapi permainan yang dilakukan sama, yaitu dengan melompat-lompat dari kotak satu ke kotak yang lain dengan menggunakan satu kaki.
2. Bongkar Pasang

Kalau yang ini adalah permainan bagi anak perempuan. Bongkar Pasang adalah gambar sosok dua dimensi yang dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan gambar pakaian dan asesorisnya. Boneka kertas ini muncul pertama kali di Paris pada abad 18, pada masa pemerintahan raja Louis XV. Awalnya berupa gambar artis yang sedang populer pada waktu itu. Diperuntukkan memang untuk permainan yang bisa dibongkar pasang alias tidak permanen. Dalam perkembangannya permainan ini menyebar dengan berbagai karakter seperti, bintang film, tokoh komik, dan yang paling populer sosok boneka barbie.
3. Bola bekel

Satu lagi permainan tradisional yang jamak dimainkan anak-anak perempuan. Permainan bekel membutuhkan sebuah bola karet yang bisa memantul dan biji bekel yang terbuat dari logam atau kuningan sebanyak 6 – 10 butir. Permainan asal Belanda ini dilakukan dengan cara menyebar dan melempar bola ke atas dan menangkapnya setelah bola memantul sekali di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau bola memantul beberapa kali maka pemain dinyatakan mati.
4. Bedil-bedilan

Permainan yang biasanya dimainkan anak laki-laki ini menggunakan senapan mainan yang biasanya dibuat dari kayu, bambu, bahkan pelepah pisang, dan di bagian ujungnya dipasangi karet pentil sepeda. Pelurunya? Mudah, tinggal ambil koran atau kertasa tak terpakai yang dibasahi kemudian bentuk bola bola kecil.
5. Benteng

Kalau beramai-ramai, memang seru bermain benteng! Dalam permainan ini seluruh anggota dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing punya benteng yang harus dijaga dari kelompok lawan. Jarak antar benteng sekitar 10 meter. Setiap kelompok harus mempertahankan bentengnya masing-masing. Selain menyerang benteng lawan kita juga dapat menawan anggota lawan. Bila personal kita dapat memegang kelompok lawan yang berkeliaran, dia jadi tawanan kita. Untuk membebaskannya, kelompok lawan harus berani mendatangi kubu kita dan menyentuhnya tanpa tersentuh oleh kita. Kita tidak boleh tersentuh oleh lawan. Kalau tersentuh oleh lawan kita akan juga jadi tawanannya. Titik kemenangan terletak jika kita dapat menyentuh benteng lawan
6. Yoyo

Yoyo adalah permainan yang sangat terkenal dan ada disetiap negara yang berasal dari Filiphina. Yoyo tradisional terbuat dari kayu berbentuk bulat dan dapat berputar dengan cepat. Untuk memutar Yoyo ini digunakan tali yang panjang dan dilekatkan di jari. Pertama tali yoyo digulung hingga habis kemudian dilontarkan kebawah, gulungan tali membuat Yoyo berputar dengan cepat dan memantul kembali keatas karena adanya tolakan dari ujung tali yang terbuka setelah digulung. Untuk memainkan Yoyo ini diperlukan keahlian dan teknik khusus sehingga tidak semua bisa bermain Yoyo dengan baik.
7. Ketapel

Kalau yang ini sebenarnya merupakan alat untuk berburu burung, namun anak-anak pun bisa menggunakannya asalkan berhati-hati. Ketapel terbuat dari cabang pohon dan dipotong membentuk huruf “Y”, peluru ketapel dapat dengan menggunakan batu kerikil atau buah jambu yang masih kecil. Untuk pelontarnya digunakan karet getah yang di kepang dan diikat di masing-masing cabang ketapel, batu yang menjadi peluru ditahan di sebuah lembaran karet atau bahan kulit.

sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer