Rabu, 09 Januari 2013

Membiarkan Cinta yang Tulus Menguasai Diri

 
Cinta yang tulus bisa menjadi milik semua orang. Namun banyak orang sering mengandalkan pamrih dalam hidupnya. Akibatnya, cinta yang tulus itu kering dan mati, karena tidak bisa ditumbuhkan dalam hidup dengan dibagikan.

Suatu hari, seorang anak yang miskin menjual pakaian dari rumah ke rumah. Ia menjual pakaian itu untuk membiayai seklahnya. Uang yang ada di sakunya tinggal sepuluh ribu rupiah. Setelah hampir setengah hari berjalan dari rumah ke rumah, ia merasa sangat lapar. Karena itu, ia meminta makan di salah satu rumah yang ia datangi.

Rasa laparnya lenyap begitu melihat seorang gadis muda membuka pintu. Daripada meminta makan, ia cuma minta segelas air.

Gadis itu melihat bahwa anak lelaki miskin itu sangat lapar. Karena itu, ia memberikan segelas besar susu. Anak miskin itu meminumnya dengan perlahan. Lantas ia bertanya, “Berapa saya harus bayar?”

Gadis itu menjawab, “Anda tidak perlu bayar sesen pun. Mamaku mengajarkan kami untuk tidak pernah menerima sesuatu pun yang kami lakukan bagi orang lain.”

Anak miskin itu menjawab, ”Saya berterima kasih kepadamu dari hati yang paling dalam.”

Bertahun-tahun kemudian, perempuan itu sakit berat. Dokter di kampung halamannya menyerah untuk mengobatinya. Mereka mengirimnya ke kota di mana ada dokter spesialis yang dapat mengobatinya. Tanpa disangka, perempuan itu berjumpa dengan seorang pemuda yang dulu ia beri minum susu segelas besar itu. Lelaki miskin itu kini menjadi dokter spesialis. Ia sangat terkejut saat pertama kali berjumpa dengan perempuan muda yang tampak loyo.

Segera ia memeriksanya dan memberikan obat. Ia melakukan yang terbaik bagi perempuan muda itu. Mulai hari itu, dokter muda itu memberikan perhatian khusus kepada perempuan muda itu.

Ia berkata dalam hati, “Berkat susu segelas besar itu, saya dapat meneruskan pendidikan saya. Saya menjadi kuat untuk berjualan pakaian.”

Sahabat, cinta yang diberikan dengan tulus kepada orang lain akan berbuah kebaikan. Cinta yang tulus tidak akan menghasilkan sesuatu yang kurang baik bagi kehidupan. Cinta itu menghasilkan sesuatu yang berlimpah-limpah bagi kehidupan manusia. Cinta memberikan damai dalam hidup. Cinta menumbuhkan rasa memiliki terhadap sesama.

Kisah di atas memberi kita pelajaran bahwa orang yang memberi dengan cinta yang tulus akan menuai dengan cinta. Orang tidak perlu mengharapkan balasan atas cinta tulus yang diberikannya. Tampaknya secara alami orang akan mendapatkan kembali cinta yang tulus itu. Bisa saja secara langsung, tetapi bisa juga secara tidak langsung.

Pepatah mengatakan bahwa roti yang dilemparkan seseorang ke atas air akan kembali kepadanya. Sesuatu yang baik yang kita lakukan hari ini, suatu saat kembali kepada kita meski kita tidak harapkan. Kalau tidak terjadi, paling kurang kita membuat suatu perbedaan dalam dunia ini.

Orang beriman dipanggil oleh Tuhan untuk menyalurkan kasihnya kepada sesama dalam kondisi apa pun. Dengan menyalurkan kasih itu, kita akan menemukan bahwa hidup ini sungguh-sungguh berguna bagi Tuhan dan sesama. Mari kita terus-menerus berusaha untuk menyalurkan kasih kepada sesama. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk berbuat baik bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


926

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer